Mempublikasikan Karya Melalui Media Sosial

Tuesday, 29 June 21 Venue

Creator KataPuan & SuaraPuan Stefany Chandra memilih mempublikasikan karyanya melalui media sosial.  Melalui dunia digital itu lah, dirinya mendapatkan penghasilan. Dirinya pun bersyukur tidak merasakan dampak pemotongan gaji atau pemutusan pekerjaan seperti yang dirasakan banyak karyawan di kantoran di saat Pandemi Covid-19.

Karya, kata Stefany, merupakan ide atau gagasan yang datangnya dari cerita hidup. Apapun bentuknya. Hidup dengan gagasan berbeda membuat sebuah karya menjadi mahal. Sementara media sosial merupakan medium untuk meletakkan karya agar dikenal luas.

“Ketika melihat karya, kita ingin melakukan reshare, komentar, dan ingin ikut menunjukkan sesuatu respon. Namun kadang ada batas tertentu yang sering kita langgar. Entah itu sebagai pembuat karya ataupun penikmat,” tuturnya dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Jumat (25/6/2021).

Stefany mengatakan, sebagai pengamat dan penikmat karya ada dua jenis reshare. Pertama, reshare nonkomersil yang mewajibkan untuk meminta izin kepada pemilik, mencantumkan sumber yang credible, dan menerangkan bahwa karya tersebut bukan milik kita namun milik orang tersebut. “Biasanya bisa kita tuliskan dalam caption. Ketika kita tidak tahu itu karya siapa, kita bisa tuliskan seseorang bisa mengklaim dengan menghubungi kita.”

BACA JUGA:   Tips Meninggalkan Jejak Digital Positif

Akan menjadi bahaya ketika di-capture, diedit, dan watermark yang dibuat malah di-crop. “Meminta izinlah terlebih dulu apalagi kita tahu itu karya siapa,” ujar dia. Sementara reshare kedua yaitu komersil. Jika komersil maka terdapat pembayaran lisensi untuk penggunaan karya tersebut.

Stefany juga meminta untuk mengamati, meniru, dan memodifikasi dalam membuat karya. Amati untuk melihat kekuatan apa yang ada dalam satu karya dan proses pengemasannya. Semua dipelajari caranya. Lalu formula orang lain dapat dimodifikasi untuk dimasukkan ke dalam ide. “Ini adalah sebuah proses panjang yang harus terus dilakukan. Tidak ada yang baru di atas muka bumi, gagasan lahir dari pengalaman yang kita punya namun proses kita mencari informasi pun harus diperkaya.”

BACA JUGA:   Jaga Data dari Kejahatan Dunia Maya

Sementara sebagai pembuat karya ada beberapa yang harus dilakukan yaitu mendaftarkan hak cipta/merk dagang, melindungi sesama kreator dengan menyampaikan dukungan, dan bersuara tentang pentingnya menghargai karya. “Jangan sampai seorang kreator behenti karena ada yang melangkahi, hanya karena itu tidak terjadi pada kita bukan berarti lain kali enggak bisa terjadi pada kita,” kata Stefany.

Dia pun mengingatkan agar setiap orang menyadari bahwa manusia tidak hidup sendiri.  “Menyadari kalau diri kita tidak sendiri itu penting. Dan mengerti juga bahwa ada hal-hal yang letaknya di luar kendali kita. Jika terjadi hal buruk mungkin lagi apes. Yang penting kita sudah melakukan semua tindakan preventif.”

Seperti negara, kata Stefany, diperlukan partisipasi aktif semua pihak mulai dari atas sampai bawah agar media digital menjadi maju.

BACA JUGA:   Memanfaatkan Digitalisasi dengan Maksimal

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).