Menjaga Ruang Digital Dari Konten Negatif

Thursday, 30 September 21 Venue
Canon EOS C70

Banyak platform digital yang bisa digunakan dan diisi dengan konten-konten positif. Ruang digital pun memiliki potensi yang besar untuk tiap penggunanya berkarya.

“Beberapa platform digital yang digunakan untuk berkarya di antaranya Youtube, Twitter, Facebook, Instagram, Tiktok, Blogger, dan Podcast,” kata Syawqi Futhaqi Hanan seorang Content Creator dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Selasa (28/9/2021).

Menurut dia, dalam menjaga ruang digital agar tetap positif, pemerintah RI melakukan tiga pendekatan untuk menjaga ruang digital dari konten negatif, yaitu di level hulu, tengah, dan hilir. Dia melanjutkan, pada level hulu atau upstream, pemerintah melakukan penyadaran dan pemberdayaan masyarakat sehingga dapat menggunakan dunia digital secara cerdas, aman, bertanggung jawab, dan produktif. “Contohnya, webinar,” kata dia.

BACA JUGA:   Data Pribadi Perlu Dilindungi, Ini Alasannya

Sementara itu, di level tengah atau middle stream yakni pendekatan yang dilakukan pemerintah melalui Kominfo untuk menangani konten negatif. Konten tersebut ditindaklanjuti dengan upaya pemblokiran atau penghapusan sehingga tidak bisa diakses masyarakat. Ia memaparkan, hingga saat ini KemenKominfo telah memblokir lebih dari 90% situs porno.

Kemudian, pada level hilir atau downstream, merupakan upaya pemerintah terhadap penegakkan konten negatif. Misalnya, kasus ujaran kebencian dan dipidana UU ITE. Dia mengatakan, konten-konten positif yang ada di ruang digital memiliki beberapa unsur. Di antaranya inspiratif, edukatif, informatif, dan menghibur.

“Konten positif maupun konten negatif ini sama-sama memiliki potensi viral. Tetapi, kalau sekadar ingin viral, konten negatif lebih berpotensi untuk viral. Namun tidak memiliki unsur-unsur baik tersebut,” ucap Syawqi.

BACA JUGA:   Pengaruh Pendidikan Karakter Terhadap Masyarakat Digital

Menurutnya, suatu konten tidak hanya sekadar perlu viral, tetapi harus memenuhi unsur inspiratif, edukatif, informatif, dan menghibur. Ia mengatakan, untuk membuat konten positif, kita bisa memulainya dengan menggunakan prinsip amati, tiru, dan modifikasi konten yang sebelumnya telah viral. Namun, perlu diingat meniru bukan berarti sama persis, karena harus ada modifikasi agar tidak menjiplak.

Konten positif yang dibuat bisa dimulai dengan hobi atau kesukaan, membuat konten yang kreatif dan inovatif. Dalam artian konten harus out of the box. Selain itu, konten positif yang dibuat bisa membangkitkan emosi pembaca seperti senang, sedih, dan sebagainya. Hal yang terpenting dalam membuat konten positif yakni perlu konsisten dan melakukan evaluasi secara rutin.

BACA JUGA:   Benteng Penangkal Paham Radikalisme, Terorisme, dan Separatisme

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).