Metode COD, Kekurangan dan Kelebihannya

Saturday, 14 August 21 Venue

Belanja secara online banyak memberikan kenyamanan dan kemudahan seperti cukup melakukannya semua melalui smartphone. Namun, belum semua orang merasa nyaman dan percaya dengan belanja online.

“Terutama bagi yang baru-baru ingin memulai bertransaksi secara online, umumnya ada rasa khawatir bila ternyata tempat belanja tersebut menipu,” kata Moch Sofi Asrifin (Praktisi IT & Relawan TIK), saat dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Kamis (12/8/2021).

Penipuan online, kata dia, memang kerap kali terjadi. Untuk itu tetap harus berhati-hati setiap kali bertransaksi. Salah satu solusi yang ditawarkan untuk menghindari penipuan adalah dengan berbelanja secara COD atau Cash on Delivery.

Biasanya, lanjut dia dalam berbelanja online diminta untuk membayar terlebih dahulu sebelum barang yang dipesan dikirimkan, maka pada metode COD justru berbeda. Cash on Delivery merupakan suatu layanan transaksi dimana pembeli dan penjual saling sepakat untuk melakukan transaksi pembayaran ketika barang yang dipesan sudah tiba di alamat pembeli.

BACA JUGA:   Media Sosial Sebagai Sarana Menjangkau Pelanggan

“Jadi dengan metode COD pembayaran tidak dilakukan secara transfer terlebih dahulu, melainkan dibayar secara tunai,” ujarnya.

Dengan metode COD, pembeli dan penjual harus bertemu secara langsung di suatu tempat yang sudah disepakati. Biasanya dicari titik tengah antara lokasi penjual dan pembeli untuk saling memudahkan. Namun, sekarang ini sudah ada kurir yang menawarkan sistem COD.

Sofi mengatakan, terdapat keuntungan dan kekurangan menggunakan metode COD, yaitu di antaranya:

  • Keuntungan COD

Sebagai pembeli tentunya Anda lebih diuntungkan bila menggunakan metode COD. Bila seharusnya dalam bertransaksi online Anda hanya bisa melihat produk melalui gambar dan mengira-ngira produk tersebut berdasarkan deskripsinya yang dibaca dari penjual, dengan metode COD, Anda jadi bisa melihat produk yang ingin Anda beli secara langsung. Anda bisa memastikan dengan teliti terlebih dahulu kondisi produk tersebut sebelum membayarnya. Jika produk tersebut tidak sesuai deskripsi, Anda pun bisa membatalkan rencana transaksi.

Namun, dari sisi penjual juga tidak ada ruginya menawarkan metode COD. Keseriusan niat penjual yang menawarkan metode COD paling tidak akan dianggap kalau dia memang penjual yang tidak berniat menipu karena berani menawarkan membawakan barang dagangannya terlebih dahulu untuk menemui calon pembeli. Dengan menawarkan metode COD secara tidak langsung akan menambah reputasi penjual.

  • Kekurangan Menggunakan Metode COD
BACA JUGA:   Ciptakan Brand Awarness di Sosial Media

Bila dibandingkan dengan metode belanja online pada umumnya, dari sisi pembayaran, metode Cash on Delivery ini tampak kurang praktis. Saat berbelanja online pada umumnya, Anda diminta melakukan transfer sebelum barang dikirimkan.

Sementara dengan untuk pembayaran COD, Anda terpaksa membawa uang tunai untuk membayar belanjaan Anda. Tentunya hal ini selain kurang praktis juga agak kurang menguntungkan dari sisi keamanan. Bayangkan bila belanjaan Anda cukup mahal dan penjual hanya menerima uang tunai.

Dari sisi penjual juga meski memberikan reputasi yang baik dengan menawarkan metode COD, tapi jelas mengeluarkan tenaga dan biaya lebih bila dibandingkan dengan sistem belanja online yang biasa. Sebagai penjual terpaksa harus meluangkan waktu, tenaga, serta ongkos untuk menemui Anda sebagai pembeli.

BACA JUGA:   Sedang Tren, Ini Keuntungan Gunakan PayLater

Belum lagi bila ternyata barang yang dibawa tidak sesuai dengan ekspektasi pembeli hingga akhirnya transaksi jual beli batal terjadi. Kejadian seperti ini bisa diminimalisir bila dilakukan transaksi belanja online dilakukan dengan cara yang biasa.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).