Para pengguna media digital menurut Cep Hilman, Wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum SMPN 1 Ciawigebang, harus memiliki etika cerdas dan bijak berinternet. Etika merupakan sebuah norma, aturan atau tata cara dan pedoman seseorang dalam bertingkah laku.
“Mungkin itu yang perlu kita tekankan kemudian mengapa harus cerdas, adalah sempurna perkembangannya. Kemudian berpikir di dalam segala hal kita harus tajam dan bijak. Bijak dalam menggunakan apa yang kita miliki sehingga semua selalu terkontrol sesuai dengan jalurnya,” kata dia dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kota Cimahi, Jawa Barat, Senin (22/11/2021).
Hilman mengatakan, alasan harus beretika dalam bermedia digital yaitu kita sudah berpindah dari dunia nyata ke dunia maya. Dalam catatan Katadata dan Kominfo, 98,9% masyarakat Indonesia memiliki akun WhatsApp begitu juga dengan akun Facebook 89,9%.
“Sebagian besar pengguna beralasan memakai media sosial untuk membantu komunikasi dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Orang tidak terputus dari dunia berkat kecanggihan teknologi,” kata dia.
Menurut Hilman, interaksi menjadi alasan utama masyarakat Indonesia menggunakan internet. “Maka sangat jelas terlihat perpindahan dari dunia offline ke online, bagaimana terjadi perubahan dalam masyarakat untuk berkomunikasi dan berinteraksi,” ujarnya
Maka dari itu, lanjut dia, dibutuhkan etika pada dunia digital juga penuh dengan tata cara dalam berkehidupan. Jika tidak beretika, akan ada dampak negatif seperti melakukan ujaran kebencian, perundungan dan penyebaran hoaks.
Hilman mengatakan, terhadap pelaku penyebar hoaks, ujaran kebencian, dan perundungan juga dapat terjerat hukum. Hal itu menjadi dampak terparah yang dapat terjadi selain dampak sosial yang bisa dirasakan pelaku. Maka dari itu ketika kita berinternet, setiap pengguna harus memiliki prinsip dasar yakni selalu memperhatikan jejak digital.
Apa yang sudah diposting di media digital sudah menjadi rahasia publik meskipun sudah dihapus tapi orang mungkin sudah menangkap layar dan juga sudah memiliki persepsi mengenai diri kita. “Jangan pernah sebarkan kebencian apalagi terhadap hal-hal sensitif seperti agama, SARA dan lainnya sebab itu akan memunculkan konflik sangat berbahaya bagi kestabilan hidup bernegara berbangsa,” ujar dia.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 -untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).





