Jangan Posting Hal Ini di Media Sosial

Saturday, 20 November 21 Venue

Media sosial menjadi aplikasi paling banyak digunakan selama pandemi Covid-19 berlangsung. Karena media sosial, kata Dhoqi Dofiri, Founder Dolovis, merupakan aktivitas teratas untuk pengguna online di Asia Tenggara selama tahun 2020.

“Selama pandemi orangtua banyak menghabiskan banyak waktu untuk aplikasi jejaring media sosial yang berbeda. Karena pembatasan sosial memaksa pengguna untuk bekerja di rumah dan menjaga anak-anak di saat yang bersamaan,” kata dia dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Jumat (19/11/2021).

Menurutnya, kita harus berhati-hati dengan informasi yang diposting di akun media sosial karena bahaya terbesar terletak pada fakta bahwa informasi, yang dibagikan di jejaring sosial dan sumber publik lainnya dapat dianalisis dan digunakan oleh seluruh orang asing termasuk pelaku kejahatan siber.

Segala sesuatu yang dipublikasikan oleh orangtua atau anak-anak secara online, kata dia, dapat menjadi bumerang yang merugikan, baik itu unggahan tentang topik acak, foto pribadi, atau detail kehidupan.

Dhoqi mengatakan, terdapat beberapa hal yang tidak boleh diposting di platform oleh orangtua ataupun anak-anak, yaitu:

  • Alamat rumah atau sekolah
BACA JUGA:   Bijak Saat Berkomentar di Media Sosial

Berbekal informasi ini, para pelaku kejahatan dapat dengan mudah menemukan pengguna. Anak-anak jarang mempublikasikan alat rumah di situs jejaring sosial, tetapi sangat sering menyebutkan nama sekolahnya. Selain di halaman utama, penting juga untuk tidak membagikan informasi tersebut di kolom komentar atau foto yang secara eksplisit menjelaskan tempat anak-anak bersekolah.

  • Nomor telepon

Bagi pelaku kejahatan siber, nomor telepon adalah salah satu data paling berharga yang bisa didapatkan. Sejak 2016, penjahat dunia maya mulai mengumpulkan nomor telepon pengguna jejaring sosial dan menggunakan informasi yang dicuri untuk mendaftar ulang ke layanan perbankan online dan mendapatkan akses ke akun korban.

  • Geolokasi terkini

Informasi bahwa anggota keluarga berada jauh dari rumah adalah sinyal untuk pencuri. Ini juga memudahkan untuk melacak seseorang. Selain itu, mengatakan sesuatu seperti “tempat favorit” dan mengunggah geotag dapat berbahaya, meskipun pengguna sedang tidak berada di tempat tersebut. Ini menunjukkan kepada pelaku bahwa tempat tersebut menjadi lokasi untuk menemukan korban dengan mudah.

  • Foto dan video pribadi
BACA JUGA:   Mulai Digandrungi, Ini Empat Manfaat Belanja Online

Berfoto mungkin menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi sebagian besar orang, namun dapat menimbulkan masalah jika dipublikasikan di internet.

  • Mengompromikan foto orang lain

Jangan mempublikasikan foto orang lain jika pengguna juga tidak ingin menjadi korban kejahatan. Pengguna dari segala usia harus memahami aturan dasar tersebut.

  • Foto bayi dari anak-anak pengguna

Orangtua sangat sering mengunggah informasi di web tentang anak-anaknya. Namun penting untuk diingat foto anak-anak dapat berpotensi mengakibatkan penindasan di kemudian hari.

  • Foto-foto barang mewah

Ini akan menunjukkan tingkat kekayaan atau menandai kemewahan seseorang kepada pihak asing. Bersama dengan alamat rumah dan geolokasi terkini pengguna akan menjadi ladang emas bagi pencuri yang berselancar mencari korban di internet.

  • Informasi tentang kehidupan pribadi

Informasi pribadi selalu dapat digunakan untuk merugikan seseorang. Misalnya, ini dapat digunakan untuk menebak kata sandi akun online, merencanakan penipuan, atau untuk berkenalan dengan anak pengguna dan mendapatkan kepercayaannya.

  • Pernyataan kritis tentang topik sensitif
BACA JUGA:   Pemerintah Pantau Akun dan Konten Radikalisme

Setiap orang tentu memiliki pandangannya sendiri atas setiap hal di dunia. Ada baiknya untuk tidak membagikan masalah yang diperdebatkan menyangkut agama, politik, hingga orientasi seksual di internet.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).