Orangtua Berperan Dampingi Anak Gunakan Gawai

Friday, 01 October 21 Venue

Perkembangan teknologi selalu memunculkan dua sisi uang logam. Selalu ada dampak baik, tetapi juga terdapat dampak negatif yang harus diwaspadai, yang saling berdekatan satu sama lain.

Cyberbullying atau perundungan di dunia maya, menjadi salah satu dampak negatif dari perkembangan teknologi digital,” kata Ratna Winahyu Utami, Produser dan Penyiar Radio Kosmonita Malang, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (30/9/2021).

Dia menambahkan, belum lagi eksploitasi anak dengan berbagai modus di dunia digital, seperti pornografi, perdagangan anak, hingga kekerasan dan pelecehan seksual. “Dampak buruk penggunaan gawai di kalangan anak-anak harus dicegah, meskipun di sisi lain gawai juga memberikan dampak yang baik,” ujarnya.

Menurut Ratna, sepertiga hidup anak juga berada di keluarga. Karena itu, keluarga juga harus berperan mengawasi dan mendampingi anak dalam menggunakan gawai untuk mencegah dampak negatifnya.

BACA JUGA:   Tips Belajar Daring Dengan Efektif

Dia mengatakan, seringkali, keluarga atau orangtua membiarkan anak menggunakan gawai tanpa pengawasan. Bahkan kadang sengaja memberikan gawai tanpa memikirkan dampak buruk bila anak sudah ketagihan.

Penggunaan gawai tanpa pengawasan dan pendampingan keluarga bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak. Akses terhadap gawai yang tanpa batas bisa mengabaikan waktu belajar dan komunikasi dengan lingkungan sekitarnya.

“Kalau sudah ketagihan, anak bisa asyik sendiri dengan gawainya. Karena itu, orangtua juga harus berperan mengawasi anak-anak dalam menggunakan gawai,” kata Ratna.

Usia anak, lanjut dia, belum saatnya menunjukkan keberadaan atau eksistensinya di media sosial atau aplikasi digital karena mentalnya belum stabil. “Seseorang perlu stabilitas mental saat menunjukkan eksistensinya di media sosial. Anak yang belum stabil, mentalnya bisa jatuh saat menerima perundungan di media sosial.”

Perundungan secara virtual di media sosial atau aplikasi digital sangat berbahaya bagi anak dan akan terasa lebih menyeramkan karena tidak terlihat bentuknya secara nyata. Perundungan secara virtual akan selalu terekam di ingatan anak. Padahal dari segi umur, anak belum siap menerima tekanan dari perundungan seperti itu.

BACA JUGA:   Panduan Netiket di Dunia Maya

Menurut Ratna, perundungan yang dilakukan di dunia nyata dampaknya tidak sekuat perundingan virtual. “Di dunia nyata anak masih mungkin bisa melihat sisi baik dari seseorang yang merundungnya, satu hal yang tidak akan terjadi di dunia digital.”

Karena itu, lanjut Ratna, orangtua seharusnya tidak membiarkan anak di bawah umur mengakses media sosial atau aplikasi digital lain yang memiliki kemungkinan dampak buruk terhadap anak. Bila orangtua mengizinkan anaknya beraktivitas secara virtual di media sosial, maka mereka harus mengawasi anak-anaknya secara ketat.

“Memata-matai atau ‘stalking‘ menjadi hal penting bagi orangtua dalam mengendalikan anak-anaknya bermedia sosial. Merupakan kewajiban orangtua untuk mengasuh, membina, dan mengawasi anak-anaknya,” katanya.

BACA JUGA:   UMKM Diharapkan Bisa Beralih Ke Ekosistem Digital

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).