Jejak Digital dan Pengaruhnya dengan Melamar Pekerjaan

Saturday, 23 October 21 Venue

Curriculum Vitae (CV) lazim dibawa saat hendak melamar pekerjaan. Dalam CV, menunjukan pengalaman dan sejauh mana keahlian. Namun, di era globalisasi nampaknya eksistensi CV sudah bergeser urgensinya menjadi jejak digital.

“Ini penting sekali karena perusahaan selain melihat CV Anda yang mentereng, mereka akan melihat rekam jejak digital saat Anda hendak melamar sebuah pekerjaan,” kata Devi R. Ayu, Founder & CEO Cindaga Comms Consultant Cindaga.com Malang dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Jumat (22/10/2021).

Devi mengatakan, bukan tidak mungkin manajer perekrutan (HRD) selain melihatnya dari CV mereka juga akan memperhatikan apa yang ada di media sosial Anda dan aktivitas Anda di internet. “Dengan sekali ketik, semua jejak digital terekam. Untuk itu, ketika hendak melamar kerja, atau ketika Anda suatu saat butuh kerja, pastikan rekam jejak digital Anda dari sekarang,” ujar dia.

BACA JUGA:   Begini Perilaku yang Termasuk Bullying

Menurut Devi, buatlah konten-konten positif, jangan mengunggah konten yang mengundang konflik atau yang mengandung SARA dan pornografi. “Mulai sekarang share (bagikan) konten-konten yang positif karena nomor satu adalah jejak digital. Dan jejak digital itu sulit dihapus, Jadi cobalah untuk berkata yang bagus-bagus. Jangan suka menulis ujaran kebencian. Jejak digital yang bagus akan menguntungkan.”

BACA JUGA:   Menanamkan Kebiasaan Aman di Dunia Maya Pada Anak

Devi menambahkan, menyisakan jejak digital yang jelek akan membuat manajer perekrutan berpikir ulang untuk memperkerjakan Anda. Bisa saja, jejak digital yang Anda perlihatkan jadi tidak sesuai dengan kualifikasi yang mereka butuhkan.

“Jadi manfaatkan booming digital ini, ini bagus sekali peluangnya. Tapi harus imbangi dengan literasi digital sehingga booming digital tidak disalahgunakan,” ujar Devi.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Teliti Bermain Media Sosial

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).