Penyebab Buruknya Etika Bermedia Sosial Netizen Indonesia

Thursday, 02 September 21 Venue

Netizen Indonesia, menurut studi yang dilakukan Microsoft pada 2020, disebut sebagai pengguna media sosial paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Menurut Firda Hariyanti, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan ITSNU Pasuruan, pola bermedia sosial netizen Indonesia sebenarnya merupakan representasi dari sikap di dunia nyata.

“Perilaku yang tidak memperhatikan etika dan sopan santun di media sosial juga sesuai dengan keadaan riil saat ini, di mana etika dan sopan santun di dunia nyata juga kerap menjadi persoalan tersendiri,” kata dia dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Selasa (31/8/2021).

Perbedaannya, kata dia, terletak pada pola komunikasi yang terjadi, di ranah sosial media interaksi yang terjadi bersifat intermediated communication atau komunikasi yang termediasi. “Sementara di ruang nyata, komunikasi terjadi secara face to face dan tradisional,” ujar Firda.

BACA JUGA:   Bisnis Online Tanpa Modal

Hal itu, lanjut dia, berpengaruh pada batas psikologis pola komunikasi yang terjadi antara dua manusia. “Dalam komunikasi sehari-hari kita terkondisi untuk menjaga sopan santun, misalnya dalam komunikasi dengan orangtua. Ada batas psikologis di sana. Di media sosial, batasan psikologis dan penghargaan itu nyaris hilang.”

Firda mengatakan, buruknya etika bermedia sosial netizen Indonesia disebabkan oleh kelompok masyarakat yang menggunakan media sosial sebagai tempat untuk menyampaikan pendapat yang tidak bisa diutarakan atau ditunjukan pada masyarakat di dunia nyata. “Media sosial digunakan sebagian masyarakat untuk menunjukan sikap dan pendapatnya yang ingin disembunyikannya dari orang-orang di lingkungan sekitarnya.”

Selain itu, lanjut dia, kelompok masyarakat ini juga merasa bahwa tidak ada yang mau mendengarkannya dalam komunikasi yang bersifat dialogis. Maka pendapat disalurkan dengan memberikan komentar pada postingan orang lain. “Apapun komentarnya, yang penting tersampaikan. Persepsi dengan memberikan aneka komentar maka merasa didengar dan eksistensi diakui, maka tujuan komunikasi tercapai,” ujarnya.

BACA JUGA:   Bebas Berekspresi Di Medsos Tanpa Berdampak Negatif

Komentar negatif yang ditunjukan oleh netizen Indonesia juga dipengaruhi dengan kondisi sosial ekonomi yang sedang terjadi saat ini. Kondisi Pandemi Covid-19 menghasilkan kecemasan dan frustasi di masyarakat. Kondisi ini menyebabkan media sosial tak hanya menjadi ruang untuk menyampaikan komunikasi atau pesan, tapi juga frustasi yang tidak terwadahi.

“Penyaluran frustasi massa yang tak terwadahi di dunia nyata, tentu yang paling mngkin, murah dan mudah adalah di media digital. Ruang ini tak menolak ekspresi apapun, ekspresi yang tak etis, tak sopan, bahkan cenderung melanggar hukum, di luar identias asli pelakunya,” tutur Firda.

BACA JUGA:   Pembelajaran Multiliterasi untuk Tingkatkan Literasi Digital

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).