Perilaku Masyarakat Berubah, News Aggregator Tumbuh Pesat

Saturday, 10 July 21 Venue

Aplikasi pengumpul berita atau news aggregator tumbuh cukup pesat sebagai wadah masyarakat memperoleh berita. Studi Reuters Institute menunjukkan 36% responden membaca berita karena direkomendasikan secara otomatis oleh mesin yang bekerja di belakang platform ini.

“Cara ini menghasilkan persentase pembaca berita lebih tinggi dibanding konten-konten yang direkomendasikan oleh jurnalis atau editor,” ujar Muhammad Imron Rosadi, Ketua Relawan TIK Kabupaten Pasuruan, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kota Batu, Jawa Timur, Jumat (9/7/2021),

Namun, Imron menyayangkan, tingkat literasi Indonesia masih rendah. Data dari Programme for International Student Assessment menunjukkan peringkat literasi Indonesia nomor 64 dari 72 negara.  “Budaya getok tular, gampangnya membagi informasi ini tidak disertai dengan budaya menelaah”

BACA JUGA:   Era Digital, Empat Keahlian Ini Penting Dimiliki

Dia menuturkan, ada sejumlah alasan mengapa news aggregator mampu berperan menjadi penyaring berita bohong (hoaks). Alasan pertama, konten dari news aggregator dimoderasi dan berasal dari sumber tepercaya. Alasan kedua, teknologi kecerdasan buatan yang ada di belakang platform news aggregator akan mengirimkan informasi berdasarkan minat warganet sendiri. “Hal ini akan memungkinkan luasnya topik dan kedalaman informasi yang dikonsumsi.”

Diketahui perilaku masyarakat dalam memperoleh berita mengalami perubahan. Studi Reuters Institute menunjukkan 51% responden mengaku memanfaatkan media sosial sebagai sumber berita. Sementara itu, 12% responden menyatakan portal berita tak lagi dilirik sebagai sumber utama informasi mereka, alias mereka menjadikan media sosial sebagai sumber utama dalam mendapatkan berita.

Temuan lainnya, segmen muda tercatat sebagai generasi yang mengandalkan media sosial sebagai tempat utama memperoleh berita dibandingkan media konvensional seperti televisi. Terdapat 28% anak muda berusia 18 hingga 24 tahun yang mengungkapkan bahwa media sosial lebih utama sebagai sumber berita dibandingkan televisi yang hanya memperoleh 24%.

BACA JUGA:   Copywriting, ‘Salesman’ di Jual Beli Online

Sebuah konten berita yang menarik di media sosial bisa dengan cepat menyebar di kalangan pengguna media sosial lainnya. “Hal ini terungkap dari paparan Reuters Institute yang mengungkapkan 24% pengguna internet membagikan konten berita di media sosial,” ujar Imron.

Perubahan perilaku masyarakat itu lah yang memberikan dampak pada media sosial sekaligus ke news aggregator yang merekomendasikan berita-berita kepada pengguna media sosial.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Menjaga Jejak Digital

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).