Perubahan Modal Sosial di Era Digital

Thursday, 04 November 21 Venue

Kini, hanya dengan di ujung jari saja pertemanan meluas. Kegiatan di internet benar-benar membuat segala aktivitas mengalami pergeseran.

“Semua berpindah secara daring. Ada sekolah online, kuliah online, kerja online, nonton bioskop juga karena film terbaru dirilis secara online atau streaming, konser juga dilakukan dengan online. Begitu juga dengan belanja sayur pun sekarang secara online,” kata Nina Ulfah, pengurus Mafindo Yogyakarta dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (02/11/2021).

Perubahan interaksi itu, kata Nina, berdampak pada panca indera kita. “Dulu, biasanya kita mengobrol dengan teman di kantin atau di cafe sambil makan minum ketemu, bersalaman sambil bercanda. Sekarang, dalam berinteraksi lebih terkonsentrasi pada Indra pendengar dan melihat, indra penciuman berkurang dalam interaksi,” kata dia. 

Dia melanjutkan, demikian pula dalam hal membangun empati dan simpati, model interaksi yang sekarang, kita mudah diombang-ambingkan oleh berbagai informasi. “Akibatnya orang menjadi mudah termakan berita bohong. Bisa ikut mem-bully sesuatu tapi di sisi lain juga kita mudah bersimpati,” ujar Nina.

BACA JUGA:   Ragam Risiko Berbelanja Online

Misalnya, lanjut dia, kalau untuk kegiatan menggerakan orang untuk melakukan donasi ataupun mengajak orang mengisi petisi sehingga ramai. Tidak seperti dulu yang harus tanda tangan di kertas, malas karena harus kirim ke pos dan lain sebagainya.

Menurut Nina, hal ini terjadi, karena ada perubahan pada modal sosial kita dan nilai tukar sosial kita. Modal sosial itu adalah hubungan kita dengan sesama dalam suatu jaringan atau koneksi sosial ini. Tidak hanya dalam artian secara internet tetapi offline pun seperti itu. “Sudah terjadi ratusan tahun lalu, ada yang disebut social capital,” katanya.

Nina mengatakan, karena terbiasa terjadi di lingkungan, jadi hal itu adalah bagaimana kita menilai diri kita, jika dulu sangat terbatas kampung, sekolah, tempat kerja. “Sekarang ini lingkungan kita melalui komunikasi kita tidak hanya dibatasi oleh ruang sekat-sekat yang ada sekarang tapi juga sangat luas. Kalau kita berteman di Facebook, kita berteman dengan temannya teman kita. Siapapun dapat membaca status kita, melihat foto kita, mengomentari cerita kita. Maka kita harus berhati-hati dalam bagikan informasi-informasi,” ujarnya.

BACA JUGA:   Alasan Marketplace Mulai Digemari

Modal sosial kita itu, kata Nina, ada tiga dimensi yang membentuk jaringan-jaringan. Pertama, berdasarkan kepercayaan terhadap dimensi budaya misalnya keluarga atau orang-orang yang berbahasa sama, bahasa Indonesia seperti kita saat ini. Jaringan kita percaya karena memiliki hobi atau makanan favorit yang sama.

Kedua, dimensi struktural di mana kita membatasi pada hubungan, misalnya mahasiswa dengan dosen, anak dengan orangtua, warga kampong, dan ketua RT. Ketiga, ada dimensi relasi, teman alumni, mungkin sesama pemain game. Itu semua terjadi dan terbentuk membentuk bonding atau kedekatan karena kesamaan, membentuk pricing bagaimana satu komunitas dengan komunitas lain bisa saling terhubung atau saling berjejaring.

BACA JUGA:   Kemampuan Digital Plus Norma, Kunci Berinteraksi Di Dunia Siber

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).