Ragam Kejahatan di Ruang Digital

Wednesday, 22 September 21 Venue

Saat ini kita berada di dunia digital yang mengharuskan masing-masing penggunanya memahami aturan-aturan dan bahaya yang ada di dalamnya. Menurut Samsul Arifin, Dosen di STIT Al-Ibrahimy Bangkalan, dengan keamanan digital, kita bisa memahami dan mewaspadai diri dari kejahatan digital yang marak terjadi.

“Terdapat beberapa bahaya kejahatan di ruang digital, di antaranya Social Engineering/phishing, Peretasan (Hacking), Spamming atau pesan sampah, Data Didling, dan Carding,” kata dia dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (21/9/2021).

Samsul mengatakan, phishing merupakan upaya untuk mendapatkan informasi data seseorang dengan teknik pengelabuan. “Biasanya kita mendapat banyak sekali tawaran melalui SMS, Whatsapp, dan sebagainya untuk memberikan data diri kita. Data itu sebenarnya akan sangat berbahaya jika digunakan oleh orang yang tidak berwenang. Akibatnya bisa mengambil data keuangan atau akun media sosial milik kita,” tuturnya.

BACA JUGA:   Penggunaan Nama Akun di Media Sosial

“Mereka (penipu) biasanya memanipulasi kita dengan empat strategi, yaitu phishing, baiting, quid pro quo, dan pretexting. Mereka memanfaatkan gawai untuk melakukan target penyerangan lewat sisi psikologis manusia,” tambah Samsul.

Sementara terkait peretasan Samsul mengatakan sebesar 20 persen dari hacking ini bermanfaat. Biasanya disebut sebagai ethical hacking. Jadi orang yang masuk ke dalam sebuah sistem untuk memperbaiki kerusakan. Namun, kata dia, ada juga hacking yang berbahaya karena mencuri data, mendapatkan uang, dan mengambil keuntungan lain.

Untuk spamming atau pesan sampah, lanjut Samsul, biasanya terdapat di email dan SMS. Spam ini umumnya bertujuan untuk mengirim iklan dan keperluan lainnya secara masal. Spam menampilkan informasi secara bertubi-tubi tanpa diminta. Bahaya spam ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengguna.

Sedangkan Data Didling, menurut Samsul, ialah suatu perbuatan yang mengubah data valid atau sah dengan cara tidak sah. Perilaku ini biasanya terdapat oknum yang masuk ke sistem lalu mengubah data-data kita.

BACA JUGA:   Strategi Pemasaran Bisnis Online

“Sementara Carding menjadi kejahatan yang paling banyak ditemui. Kejahatan ini menggunakan kartu kredit milik orang lain untuk berbelanja. Bisanya dilakukan dengan memasukkan nomor kartu, masa berlaku kartu, dan nomor CVV,” tutur dia.

Samsul mengatakan, adanya algoritma mempengaruhi isi dalam perangkat kita. “Bisa diibaratkan, orang yang membaca berita A akan selalu mendapat informasi tentang berita A,” kata dia.

Algoritma ini, lanjut dia, akan membuat kita selalu berbeda pendapat karena informasi yang ada di akun kita selalu terbatas pada suatu topik. “Ini dampak buruk kalau kita tidak memahami algoritma di internet. Jadi, orang yang sering membaca hoaks akan terus mendapatkan berita seputar hoaks. Dengan itu kita juga jadi rentan dengan kejahatan di dunia digital,” kata Samsul.

BACA JUGA:   Ragam dan Kelebihan Investasi Online

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).