Tiga Kiat Mengidentifikasi Informasi yang Salah

Friday, 09 July 21 Venue

Pertumbuhan penetrasi smartphone dan media sosial yang tidak diimbangi literasi digital menyebabkan berita palsu alias hoaks merajalela di Indonesia. Informasi menyesatkan banyak beredar melalui aneka jalur digital, termasuk situs online dan pesan chatting. Jika tidak hati-hati, netizen bisa termakan tipuan hoaks, atau bahkan ikut menyebarkan informasi palsu yang boleh jadi sangat merugikan bagi pihak korban fitnah.

Menurut Soni Mongan, Konten Kreator / Entertainer, ada tiga kiat yang dapat membantu mengidentifikasi informasi yang salah ketika menemukan berita atau pesan apa pun di media sosial. “Pertama, cek headline atau judul berita,” katanya dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, (8/7/2021). 

BACA JUGA:   Strategi Tepat Bikin Konten Personal Branding

Soni mengatakan, pastikan berita yang dibaca tidak mengandung topik sensasional, atau tidak masuk akal. “Seperti contohnya, ketika gempa bumi terjadi, sudah pasti berita yang mengatakan gempa susulan dengan skala lebih besar dapat dipastikan adalah berita bohong, karena gempa tidak bisa diprediksi sama sekali,” katanya.

Kedua, lanjut dia, cek sumber berita. Pastikan berita yang dibaca berasal dari sumber tepercaya, entah artikel tersebut berasal dari penerbit yang sangat terkenal, atau ditulis oleh seorang ahli. Sementara yang ketiga, yaitu cek keseluruhan isi berita.

Soni menuturkan, tidak kalah penting, katanya, yaitu biasakan membaca seluruh isi berita. Berita palsu biasanya menyertakan sumber yang terlihat kredibel, seperti tips kesehatan dari dokter terkenal.

BACA JUGA:   Gambaran ‘Dua Mata Pisau’ Media Sosial

“Kita dapat dengan mudah menelusuri nama dokter di internet. Jika nama dokter tidak ditemukan dan artikelnya, dapat dipastikan bahwa berita tersebut adalah berita palsu. Selain itu, kita juga dapat memeriksa melalui sumber terpercaya lainnya seperti situs web khusus medis,” ujarnya.

“Dengan mengikuti tiga tips di atas dan memegang prinsip tidak hanya menjadi trigger happy, Anda telah maju selangkah menjadi netizen yang pintar,” kata Soni.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Gemar Bermain Internet, Dua Hal Ini Harus Diingat

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).