Pandemi Dongkrak Nilai Transaksi Nontunai

Friday, 09 July 21 Venue

Kebijakan physical distancing yang berlaku selama masa Pandemi Covid-19 mendongkrak nilai transaksi nontunai. Transaksi nontunai dipilih karena dapat meminimalisir adanya kontak fisik. Kondisi ini memicu berbagai layanan dompet digital semakin gencar melakukan promosi demi meningkatkan jumlah penggunanya.

Peningkatan yang signifikan pada transaksi ini, menurut Afra Monica Anindya, Owner Fazo Store,  terutama terjadi pada belanja untuk kebutuhan sehari-hari, seperti untuk makanan atau minuman yang biasa diantar langsung ke masyarakat (delivery).

“Fakta menunjukan bahwa selama Pandemi Covid-19 kegiatan digital meningkat pesat termasuk aktivitas belanja online meningkat hingga 400 persen,” ujarnya dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Kamis (8/7/2021).

BACA JUGA:   Kegiatan Ini Mampu Usir Kebosanan di Saat Pandemi

Hasil survei Mckinsey menyebutkan 34% orang Indonesia sering belanja makanan secara daring. Sebanyak 30% lainnya mengaku sering belanja kebutuhan rumah via daring. Uniknya, 72% mengaku akan tetap membeli kebutuhan sehari-hari melalui daring meski sesudah Covid-19.

Metode pembayaran dengan uang elektronik (UE) dan transfer bank menjadi metode yang paling banyak digunakan dalam transaksi digital. Perubahan tersebut mampu menstimulus sektor bisnis, khususnya UMKM dalam menggunakan transaksi digital dan mendapatkan kesempatan merangkul pasar yang lebih luas. “Inovasi produk merupakan keharusan bagi UMKM untuk menangkap peluang pasar yang ada seiring dengan memperkuat keberadaannya di berbagai platform digital dalam mendukung usahanya,” katanya.

Indonesia, kata Afra, menyimpan potensi besar dari sektor ekonomi digital. Riset Google, Temasek, dan Bain bertajuk E-conomy SEA 2019 menyebut, nilai ekonomi digital Indonesia mencapai US$40 Miliar pada 2019. Riset tersebut juga memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia akan menyentuh angka US$ 130 miliar pada 2025. “Tidak heran, berbagai perusahaan menangkap tren ini untuk membuat layanan dompet digital atau e-wallet.”

Kehadiran e-wallet juga membawa tren baru yang berkembang di masyarakat, yakni cashless society. Hanya berbekal gawai, masyarakat mampu bertransaksi dengan mudah tanpa perlu repot menyiapkan uang tunai. “Tren cashless society ini pula yang mendorong pelaku bisnis bertransformasi hadirkan layanan transaksi digital,” ujarnya.  

BACA JUGA:   Ancaman Phising, Begini Cara Menghindarinya

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).