Transformasi Digital Di Dunia Pendidikan

Saturday, 26 June 21 Venue

Pandemi Covid-19 telah mengakselerasi transformasi dunia pendidikan dari pertemuan tatap muka menjadi pembelajaran online (daring). Berdasarkan survei BPS pada Juli 2020, 73 dari setiap 100 institusi pendidikan telah mengubah cara mereka beroperasi, menyesuaikan dengan pandemi. Hal ini menjadi tantangan, mengingat belum adanya standar tertentu dalam optimalisasi proses belajar-mengajar secara daring.

“Proses belajar mengajar yang beralih menjadi daring tidak hanya terjadi di Indonesia. Dalam Policy Brief: Education during Covid-19 and Beyond yang dipublikasikan oleh PBB menyebutkan, fenomena belajar dari rumah terjadi di lebih dari 190 negara di dunia. Dampaknya dirasakan oleh 1,6 miliar pelajar, 94% dari populasi pelajar di dunia,” ungkap Vitalia Fina Carla Rettobjaan, S.M., M.M, Dosen Universitas Bali Internasional dan Relawan TIK Provinsi Bali, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Selasa (22/6/2021).

BACA JUGA:   Tips Menghindari Kecanduan Internet

Lanjut Vitalia, hal itu disebabkan digital transformation ada di mana-mana. Ini bukan hanya tentang mengubah layanan yang ada menjadi versi digital, tetapi meningkatkannya. Digital transformation mengacu pada transformasi keseluruhan kegiatan organisasi yang bertujuan memanfaatkan peluang yang diciptakan oleh teknologi dan data digital.

“Konsep di balik digital transformation adalah bagaimana menggunakan teknologi untuk membuat kembali suatu proses sehingga menjadi lebih efisien atau efektif,” kata Vitalia.

“Pemanfaatan TIK di sekolah dapat meningkatkan kualitas pembelajaran meningkat, dengan e-learning guru mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran berbasis TIK, dan juga kualitas layanan meningkat dengan e-administrasi stakeholder pendidikan memberikan layanan prima, cepat, murah, transparan, dan akuntabel,” paparnya.

Menurut dia, perkembangan digital juga memiliki dampak positif dan negatif. Untuk dampak positif digital pendidikan adalah memudahkan mencari informasi yang dibutuhkan dengan semakin cepat dan mudah diakses, inovasi dalam pembelajaran semakin berkembang, munculnya metode-metode pembelajaran baru, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), dapat digunakan sebagai sistem pendukung keputusan dalam dunia pendidikan.

BACA JUGA:   Puasa Medsos, Begini Caranya

Selain dampak positif, ada dampak negatif juga, seperti banyaknya informasi yang menarik bagi siswa di internet membuat siswa terkadang tidak fokus ketika pembelajaran sedang berlangsung, mempermudah terjadinya pelanggaran terhadap hak atas kekayaan intelektual (HAKI), banyaknya informasi menarik atau game online membuat peserta didik menjadi malas belajar, penyalahgunaan pengetahuan bagi orang tertentu untuk melakukan tindakan kriminal, teknologi informasi membuat pengaruh dari luar negeri masuk dengan sangat bebas dan sangat sulit dibendung, serta maraknya penyebaran pornografi.

“Infrastruktur yang harus disiapkan lembaga pendidikan adalah platform e-learning, kurikulum berbasis STEAM, School Information System (SIS), Artificial Intelligence, machine learning, serta perangkat digital berkapasitas besar,” tutup Vitalia.

BACA JUGA:   Pemerintah Akselerasi Pengembangan SDM Digital

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).