Apa Jadinya Pariwisata Tanpa Budaya?

Thursday, 06 February 20 Herry Drajat
Nyoman Nuarta NuArt Sculpture Park

Lahir di Tabanan, Bali, 14 November 1951, Nyoman Nuarta tumbuh sangat dekat dengan alam dan belajar pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan Sang Pencipta, manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan manusia (Tri Hita Kirana). Nama Nyoman Nuarta melambung berkat mahakaryanya di Pulau Dewata, yakni Garuda Wisnu Kencana yang proses pembuatannya memakan waktu 28 tahun.

Untuk menampilkan karya-karya seni Nuarta sejak awal kariernya hingga sekarang, Nuarta membangun NuArt Sculpture Park di Bandung Utara, yaitu sebuah kompleks ruang seni yang mempunyai konsep terbuka dan terintegrasi dengan alam yang dibangun dengan mengusung tema seni, budaya, dan alam. Pembangunan NuArt adalah salah satu bentuk dari hubungan pariwisata dengan budaya di mana unsur seni berada di dalamnya.

Menurut Nuarta, budaya dapat dimanfaatkan oleh pariwisata, juga sebaliknya. “Kalau pariwisata tidak maju, budaya akan suram. Sebagian orang menganggap budaya sebagai uang keluar tidak ada gunanya. Itu salah besar. Bali itu sumbang berapa ke negara? Di atas Rp100 triliun per tahun, dan itu bersumber dari budaya yang dipungut oleh pariwisata. Kalau pariwisata tidak ada budaya, pariwisata apa?,” ujar Nuarta. “Kita boleh melihat budaya orang, belajar budaya orang, tapi jangan lupa dengan budaya nenek moyang kita karena itu suatu warisan yang luar biasa.”

Menyikapi generasi milenial saat ini, Nuarta berpendapat kalau generasi milenial sekarang pintar-pintar. Salah satu dukungan pada generasi muda, Nuarta mempersilakan para anak muda memanfaatkan NuArt untuk kegiatan mereka, baik untuk kegiatan workshop, kursus, maupun pentas seni.

“Anak-anak muda silakan gunakan fasilitas kami, mau sosial atau edukasi, kami siap kolaborasi, sepanjang masih dalam lingkup seni budaya,” kata Nuarta.