Brand fashion terbaru asal Indonesia, TYGA, membuka store pertamanya di Pondok Indah Mall 3 lantai 2, Jakarta Selatan. Brand yang mengusung nilai self-authenticity dan inklusivitas generasi ini semakin memberikan warna baru bagi industri fesyen tanah air.Â
Mengusung konsep City of TYGA, store ini diharapkan menjadi tempat pertemuan lintas generasi mulai dari Gen Z, milenial, hingga senior. Hal ini sejalan dengan komitmennya yaitu tidak hanya menjual pakaian saja, tetapi juga membentuk sebuah komunitas baru di dalamnya.Â
Untuk mendukung langkah tersebut, TYGA, menyediakan ruangan khusus bagi para komunitas yang ingin menggelar event. Ruangan ini juga dapat digunakan untuk creative gathering dan aktivitas intergenerasional yang mendorong pertukaran ide dan pengalaman.
Pengunjung juga bisa melihat langsung koleksi terkini dari TYGA yang ditampilkan dalam store. Sebagai pembuka, TYGA, mengeluarkan koleksi perdananya berjudul UNSTIGMATIZED dengan 15 special releases di dalamnya.
Sesuai namanya, koleksi ini hadir untuk mereka yang tak terpengaruh dengan penilaian orang tentang gaya, cara membawa diri, hingga cara menjalani hidup. Untuk mereka yang percaya satu hal: live and let live (vivre et laisser vivre).
Masing-masing releases mengangkat narasi tentang keberanian tampil apa adanya, tanpa takut penilaian. Koleksi ini menantang norma sosial yang seringkali membatasi ekspresi pribadi berdasarkan usia, gender, maupun ekspektasi budaya.
“Banyak dari kita, khususnya yang lebih senior, sering berkata ‘I used to be…’. Lewat TYGA, kami ingin setiap orang merasa bahwa mereka masih bisa keren, relevan, dan berani tampil tanpa harus memandang usia,” ujar Niccolas Lim, Creative Director TYGA.

Koleksi ini hadir dengan visual berupa wajah-wajah yang disensor, menggunakan kotak berwarna oranye sebagai simbol penyamaran identitas. Visual ini bukan sekadar estetika, melainkan bentuk pernyataan untuk mengalihkan fokus dari label sosial menuju konteks dan cerita di baliknya.
UNSTIGMATIZED dirancang dengan perpaduan kualitas tinggi dan narasi personal. TYGA menggunakan material seperti cotton heavy-weight, teknik washed, exposed seams, hingga raw edges yang menggambarkan kejujuran dalam proses produksi.
Setiap potongan busana dibuat dengan siluet longgar namun tetap terstruktur. Hal tersebut memberikan kesan effortless namun tetap kuat bagi siapa saja yang menggunakannya.
Palet warna yang digunakan cenderung netral dan earthy—warna-warna yang tidak terasosiasi dengan gender atau umur tertentu. Elemen oranye menjadi aksen khas, melambangkan City of TYGA sebagai ruang imajiner tempat semua ekspresi diterima dan tidak dihakimi.
Melalui kombinasi tersebut, setiap outfit tidak hanya menjadi produk fesyen, tetapi juga media ekspresi yang merefleksikan kebebasan identitas.
“Kami menghindari desain yang terlalu trend-driven, karena kami ingin produk TYGA bisa dikenakan lintas waktu dan lintas generasi. Kami percaya bahwa pakaian harus terasa personal, bukan hanya modis. Autentik, bukan artifisial,” jelasnya.




