Bulan Depan Bali Sudah Bisa Terima Wisatawan

Friday, 01 May 20 Bonita Ningsih

Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) optimistis dapat segera menjual paket perjalanan ke Bali pada Juni atau Juli 2020. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum ASITA Nunung Rusmiati saat menjadi pembicara di MarkPlus Industry Roundtable Tourism and Hospitality Industry Perspective yang dihadiri lebih dari 500 peserta dalam aplikasi Zoom.

Rusmiyati mengatakan, beberapa waktu lalu dirinya sempat berdiskusi dengan anggota ASITA yang berada di Bali terkait situasi saat ini. Dalam diskusi tersebut, asosiasi dan travel agent di Bali yakin kondisi ini dapat segera pulih dan menyatakan siap jika daerahnya menjadi tujuan pertama bagi para wisatawan pasca-pandemi COVID-19.

“Juni atau Juli ini para travel di Bali sudah siap. Kita harus optimistis dan siap kalau Bali menjadi daerah pertama yang paling cepat didatangi wisatawan,” ungkap Rusmiati.

Keyakinan Rusmiati dan ASITA di Bali ini didasari atas prestasi yang ditorehkan Bali selama pandemi COVID-19 berlangsung. Ida Bagus Okanentru Agung Partha, Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, menjelaskan bahwa rata-rata kematian yang ada di Bali hanya sebesar dua persen. Angka ini bahkan di bawah rata-rata kematian dunia akibat COVID-19 yang sudah mencapai enam persen.

BACA JUGA:   Colliers Indonesia: Aturan Retribusi ke Bali Tak Menurunkan Jumlah Wisman

Selain itu, tingkat kesembuhan di Bali terbilang cukup tinggi dari rata-rata dunia, yakni mencapai 30 persen. Padahal, rata-rata tingkat kesembuhan COVID-19 di dunia hanya mencapai 26 persen. Prestasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan promosi ASITA dalam berjualan pasca-COVID-19.

Pada kesempatan yang sama, Hermawan Kartajaya selaku Founder & Chairman MarkPlus juga mengatakan bahwa dirinya yakin Bali akan menjadi daerah pertama di Indonesia yang bangkit pasca-COVID-19. Hermawan menganggap Bali sudah memiliki branding pariwisata yang baik sehingga mempermudah daerahnya untuk bangkit pasca-keterpurukan ini.

“Bali akan lebih cepat kembali karena di sana sudah punya branding sebagai tempat yang layak untuk berwisata. Contohnya saja saat pandemi ini, banyak keluarga dari Jakarta lebih memilih mengungsi ke Bali ketimbang ke Singapura. Ini berarti di sana memang sudah bagus branding-nya,” ungkap Hermawan.

BACA JUGA:   Pemda Diminta Bantu Selamatkan Industri Pariwisata dan Ekraf

Seakan mendapat angin segar, Rusmiati dan anggotanya di ASITA Bali sudah mulai mempersiapkan paket-paket promosi perjalanan di Bali. Rusmiati juga mengajak seluruh anggotanya yang tersebar di 34 provinsi Indonesia untuk mulai mempersiapkan paket spesial bagi para wisatawan.

“Kita ini cukup fleksibel ya, jadi kita harus memikirkan bagaimana caranya setiap provinsi juga mulai mempromosikan daerahnya. Kalau untuk ASITA di Bali memang itu sudah sangat kuat asosiasinya di sana,” ucap Rusmiati.

Pembicaraan Rusmiati dengan ASITA Bali tidak hanya sebatas paket promosi saja, tetapi juga membicarakan bagaimana mengatasi kekhawatiran wisatawan agar dapat berlibur dengan tenang. Kendati belum mengetahui pandemi ini akan berakhir kapan, ketika travel agent di Bali sudah mulai jalan, mereka harus tetap menerapkan aturan jaga jarak antar-sesama.

“Mungkin di antara mereka masih ada yang trauma dengan proses penyebaran COVID-19, makanya nanti kita akan tetap memberlakukan social distancing,” dia menambahkan.

BACA JUGA:   India Membidik 1 Juta Turis Inggris

Beberapa contoh kecil yang dapat dilakukan ialah dengan mengatur jumlah penumpang di dalam mobil atau bus pariwisata. Antar-penumpang harus duduk berjarak agar mengurangi risiko yang tidak diinginkan. Selama dalam perjalanan, penumpang akan mendapat pengawasan secara khusus dari dokter atau tenaga medis yang sudah disiapkan para travel agent di Bali.

“Saat kemarin saya tanya ke travel agent di bali, ternyata mereka sudah siap untuk melakukan itu semua. Sekarang kita sedang memikirkan harga yang fleksibel, murah tapi bukan murahan. Kita juga akan terus meningkatkan kualitas dan yang lebih penting ialah kuantitas,” ujar Rusmiati.