Colliers Indonesia baru saja memaparkan laporan kinerja pasar properti selama kuartal kedua tahun 2025. Laporan yang berhasil dihimpun pada periode April hingga Mei 2025 ini menunjukkan adanya kinerja beragam dari setiap sektor properti di Indonesia.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menjelaskan ada sejumlah pasar properti yang dibahas pada kuartal 2 tahun 2025. Beberapa pasar properti yang dimaksud adalah sektor ritel, perkantoran, apartemen, hingga hotel.
“Kali ini sektor hotel yang dibahas hanya dari Jakarta dan Bali. Hotel Surabaya akan dibahas setiap semester saja mengingat pertumbuhan hotel di sana masih stagnan,” kata Ferry dalam Colliers Virtual Media Briefing Q2 2025, beberapa waktu lalu.
Untuk sektor hotel di Jakarta, Colliers melihat bisnisnya saat ini masih dalam proses pemulihan. Pasalnya, hotel di Jakarta sempat mengalami perlambatan bisnis akibat adanya efisiensi anggaran pemerintah di semester awal 2025. Efisiensi anggaran tersebut turut mengurangi kegiatan pemerintahan yang seringkali diadakan di hotel.
Meski demikian, bisnis hotel di Jakarta tetap berjalan dengan adanya peningkatan aktivitas bisnis dari pasar lain selain pemerintah. Beberapa di antaranya dari pasar korporat, swasta, hingga free independent traveler. Meningkatnya kegiatan MICE dan event-event besar lainnya juga turut mendorong meningkatnya bisnis hotel di Jakarta.
“Walaupun dari pasar lainnya mulai bergerak, tetapi, belum bisa secara signifikan menutup pemasukan hotel di Jakarta. Ini karena pasar pemerintahan di Jakarta jumlahnya cukup besar sehingga memengaruhi performa bisnis hotel Jakarta pada kuartal dua ini,” jelasnya lagi.
Sedangkan untuk pasar hotel di Bali menunjukkan kinerja yang kuat karena kembalinya aktivitas pemerintah hingga bertambahnya jumlah penerbangan internasional. Bali selalu menjadi destinasi populer bagi wisatawan nusantara dan juga mancanegara sehingga membantu meningkatkan bisnis hotel di sana.
“Data bulan Juni memang belum rampung, tetapi, kami pastikan adanya peningkatan kinerja hotel Bali di periode tersebut. Hal ini didukung dengan adanya liburan sekolah dan libur musim panas untuk wilayah Australia,” ujarnya.
Sama seperti hotel di Jakarta, sektor perkantoran juga dinilai telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Menurut Ferry, permintaan sewa gedung perkantoran di Jakarta mulai tumbuh seiring dengan banyaknya insentif yang ditawarkan pemilik gedung.
“Ditambah dengan adanya pemekaran Kementerian/Lembaga negara yang berpotensi mendongkrak permintaan ruang kantor di Jakarta. Dalam hal ini, gedung premium dan kelas A di Jakarta yang paling banyak diminati para penyewa,” ungkap Ferry.
Sementara itu, sektor ritel pada kuartal 2 tahun 2025 tetap menunjukkan prospek positif karena tingginya tingkat hunian di sejumlah pusat perbelanjaan populer. Hal ini terjadi lantaran mal-mal kelas atas lebih memilih meningkatkan pengalaman pengunjung dan mengoptimalisasikan komposisi penyewa, dibandingkan membangun proyek baru.
Pada periode yang sama, pasar apartemen terlihat stabil dengan harga dan tingkat serapan yang cenderung tidak berubah. Hal ini dikarenakan pembeli lebih memilih unit siap huni ketimbang yang masih dalam proses pembangunan.
Kondisi ini juga dipengaruhi dengan meningkatnya permintaan rumah tapak bagi masyarakat Jakarta maupun ekspatriat. Menurutnya, para ekspatriat lebih tertarik menempati rumah tapak di kawasan favorit Jakarta karena memiliki lokasi strategis.
“Namun, banyak ekspatriat yang terpaksa tinggal di lokasi alternatif di sekitar wilayah utama karena terbatasnya rumah tapak, tetapi permintaannya cukup tinggi,” dia menambahkan.
Secara keseluruhan, beberapa sektor mulai menunjukkan tren positif meskipun sebagian lainnya masih membutuhkan penyesuaian strategi. Menurutnya, strategi yang baik masih harus terus dilakukan untuk menghadapi tantangan yang belum sepenuhnya terselesaikan.





