Efek Pandemi, Healing Menjadi Trend Baru Berwisata

Friday, 03 May 24 Bonita Ningsih
Westin Resort & Spa Ubud

Pandemi Covid-19 mengubah habit masyarakat dalam kehidupan sehari-hari termasuk saat berwisata. Jika sebelumnya masyarakat lebih menyukai tempat-tempat ramai, pascapandemi ini mereka lebih memilih berwisata di area sunyi untuk merasakan ‘me-time’.

“Ini yang disebut dengan “healing”, di mana saat ini tengah menjadi trend baru berwisata bagi masyarakat Indonesia,” ungkap Adyatama Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ahli Utama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Nia Niscaya, dalam dialog bersama Himpunan Anak Media (HAM) di Mangkuluhur ARTOTEL Suites, Jakarta, beberapa waktu silam.

BACA JUGA:   Poltekpar Siap Ciptakan SDM Pariwisata yang Berdaya Saing Internasional

Trend ini mengacu dari data yang dikeluarkan Google Trends Indonesia pada tahun 2022. Data tersebut menyebutkan bahwa topik travel yang mengandung kata “healing” mengalami kenaikan 500 persen di tahun 2022 jika dibandingkan tahun sebelumnya. Saat itu, masyarakat Indonesia mulai mencari tempat untuk bersantai dan melepas penat.

Bahkan, kata “healing” perlahan menggusur “traveling” khususnya di kalangan milenial ke bawah. Healing juga menjadi sangat populer di kalangan generasi Z karena dianggap mampu mengatasi mental health. 

Serupa dengan healing, Nia, menyebutkan traveler global juga lebih memilih berwisata back-to-basic dan mencari liburan bergaya ‘off grid’ untuk melarikan diri dari kenyataan. Sejak tahun 2023, wisatawan lebih tertarik memilih berwisata di alam terbuka untuk mempelajari keterampilan bertahan hidup seperti cara mendapatkan air bersih, menyalakan api, hingga mencari makan di alam liar. 

BACA JUGA:   Kemenparekraf Sediakan Paket Wisata Untuk Delegasi G20

Hal ini sudah terkonfirmasi dari hasil survei yang dilakukan Inventure-Alvara pada tahun 2023 silam. Survei tersebut menyebutkan bahwa 95 responden tertarik melakukan wisata back-to-basic atau ‘off grid’ yang jauh dari perkotaan dan modernitas. Mereka lebih memilih menikmati alam sekitar dan berinteraksi dengan penduduk lokal.

“Pandemi memang membuat sebagian masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap dunia dan kenyamanan dalam kehidupan modern sehingga mereka lebih memilih cara berwisata baru tersebut,” katanya.