Filipina, Venuemagz.com -Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan signifikan di sektor pariwisata pada 2026, dengan fokus pada wisatawan mancanegara dan domestik untuk mendongkrak ekonomi nasional.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2025 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 15,39 juta orang, naik 10,80 persen dari 2024. Lalu, Average Spending on Arrival (ASPA) rata-rata US$1.267 per wisatawan. Total devisa pariwisata menyentuh US$18,91 miliar, naik 13.17 persen dari 2024. Sementara, pariwisata domestik mencatat 1,2 miliar pergerakan wisatawan dan membuka 25,9 juta lapangan pekerjaan.
Dalam kegiatan Media Briefing National Tourism Organization (NTO) ASEAN Tourism Forum (ATF) 2026, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Republik Indonesia Ni Made Ayu Marthini mengatakan bahwa sektor pariwisata bukan lagi sebuah low hanging fruit, melainkan sudah menjadi penggerak ekonomi di masyarakat.
Made Marthini menambahkan, pada tahun 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ditargetkan antara 16 juta orang hingga 17,6 juta orang. Kemudian, Average Spending on Arrival (ASPA) diperkirakan mencapai US$1.372 hingga US$1.404. Lalu, total devisa yang dihasilkan dari sektor pariwisata pun diproyeksikan antara US$22 miliar hingga US$24,7 miliar.
Adapun 15 negara yang menjadi target utama promosi pariwisata Indonesia adalah Amerika Serikat, Arab Saudi, Australia, Belanda, China, India, Inggris Raya, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Malaysia, Prancis, Rusia, Singapura, dan Uni Emirat Arab.
Untuk pariwisata domestik, targetnya pada tahun 2026 adalah 1,18 miliar pergerakan wisatawan. Selain itu, diharapkan sektor pariwisata ini bisa membuka hingga 26,53 juta lapangan pekerjaan. Kemudian, diharapkan kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB Nasional sekitar 4,6 persen sampai 4,7 persen.
Untuk mencapai target tersebut, ada enam strategi pemasaran dan promosi yang akan dilakukan. Strategi pertama adalah Tourism 5.0, yakni menggunakan bantuan AI untuk memberikan pengalaman mencari informasi yang unik, memperluas jangkauan, serta menganalisis data untuk keperluan promosi.
Strategi kedua adalah Kolaborasi Terintegrasi (Integrated Collaboration), yakni menjalin kolaborasi dengan para stakeholder pariwisata untuk meningkatkan minat berwisata di Indonesia.
Strategi ketiga adalah berpartisipasi di travel expo. Tujuannya selain untuk mempromosikan pariwisata Indonesia, juga untuk bertemu dengan para pemain pariwisata di luar negeri.
Strategi keempat adalah mengadakan familiarization trip dengan mengundang media maupun pemain pariwisata di luar negeri untuk merasakan langsung destinasi wisata di Indonesia.
Strategi kelima adalah publikasi, yakni dengan membuat materi promosi serta mendistribusikannya melalui sosial media dan iklan konvensional.
Strategi terakhir adalah mempromosikan niche tourism, seperti Wonderful Indonesia Gourmet dan Wonderful Indonesia Wellness, bekerja sama dengan stakeholder lokal.
Dengan strategi ini, pariwisata Indonesia diharapkan tidak hanya mencapai target angka, tapi juga membangun ekosistem berkelanjutan yang melibatkan teknologi, kolaborasi global, dan pengalaman unik bagi wisatawan. Keberhasilan ini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi unggulan di Asia Tenggara.

Kendala Utama: Jumlah Penerbangan Internasional
Meski ada kemajuan, sektor pariwisata Indonesia menghadapi kendala signifikan di konektivitas udara.
“Setelah COVID, jumlah penerbangan di Indonesia menjadi sangat berat. Sebelum COVID, ada sekitar 650 pesawat yang beroperasi ke Indonesia. Sekarang, jumlahnya hanya sekitar 350 pesawat. Kami masih kekurangan pesawat,” ujar Made Marthini.
Untuk itu, Made menambahkan, strategi yang akan dijalankan adalah untuk memenuhi load factor. Bali misalnya, load factor-nya sudah 99 persen. Namun di Surabaya baru 70 persen.
“Jadi, bagaimana kita bisa memenuhi yang 30 persennya, terutama saat low season,” ujar Made.




