Enam Kunci untuk Meningkatkan Kunjungan Wisatawan

Tuesday, 05 June 18 Harry Purnama
Pengembangan Destinasi Wisata

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata beserta jajarannya memaparkan program dan strategi pengembangan destinasi pariwisata Indonesia kepada media nasional di Redtop Hotel & Convention Center, Jakarta, pada 4 Juni 2018. Pertemuan dengan media nasional ini merupakan bentuk publikasi program dan kebijakan Kementerian Pariwisata dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas destinasi pariwisata dalam rangka mendukung terwujudnya target kunjungan wisatawan.

Dalam pembangunan kepariwisataan nasional, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi memiliki tugas menciptakan, meningkatkan kualitas produk dan pelayanan kepariwisataan, serta kemudahan pergerakan wisatawan di destinasi pariwisata.

“Untuk menyukseskan pembangunan kepariwisataan nasional tersebut ada beberapa hal yang harus terus dibangun, seperti pembangunan daya tarik wisata/atraksi, pembangunan prasarana, penyediaan fasilitas umum, pembangunan fasilitas pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Dadang Rizki Ratman, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata.

Sejumlah strategi pengembangan destinasi pariwisata terus diimplementasikan oleh Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, di antaranya pengembangan perwilayahan, atraksi wisata, aksesibilitas, amenitas, masyarakat, dan investasi.

Dalam pengembangan perwilayahan, pembangunan destinasi pariwisata difokuskan pada sejumlah wilayah, di antaranya 50 Destinasi Pariwisata Nasional, 88 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), dan 222 Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN).

Sebagai penarik wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia, pengembangan atraksi wisata dilakukan meliputi daya tarik wisata alam, budaya, serta buatan. Produk wisata Indonesia sendiri terbagi menjadi alam (35%), budaya (60%), dan buatan (5%). Produk wisata alam meliputi wisata bahari (35%), ekowisata (45%), dan wisata petualangan (20%). Wisata budaya meliputi wisata warisan budaya dan sejarah (20%), wisata belanja dan kuliner (45%), serta wisata kota dan desa (35%). Produk wisata buatan di antaranya wisata MICE dan Event (25%), wisata olahraga (60%), dan wisata kawasan terintegrasi (15%).

Sementara itu, untuk mempermudah pergerakan wisatawan menuju destinasi pariwisata dilakukan peningkatan aksesibilitas berupa prasarana transportasi, sarana transportasi, dan sistem tranportasi. Pada pengembangan amenitas destinasi pariwisata, fokus ditujukan pada pembangunan prasarana umum, penyediaan fasilitas umum, dan pembangunan fasilitas pariwisata. Bukan hanya fasilitas dan aksesibilitas, pengembangan masyarakat juga dianggap penting dalam strategi pengembangan destinasi pariwisata. Pengembangan masyarakat tersebut meliputi, peningkatan kapasitas sumber daya masyarakat, dan peningkatan kesadaran dan peran masyarakat.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi juga bertugas mengembangkan investasi pariwisata dengan menerapkan sejumlah strategi di antaranya memberikan insentif, kemudahan, serta melakukan promosi investasi. “Semua strategi ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas destinasi pariwisata agar dapat tercipta destinasi yang aman, nyaman, menarik, mudah dicapai, berwawasan lingkungan, serta mampu meningkatkan pendapatan nasional, daerah, dan masyarakat,” kata Dadang.

Dadang mengatakan, pengembangan destinasi pariwisata haruslah bertujuan customer-centric strategy yang mencakup tiga hal. Pertama, customer satisfaction di mana wisatawan puas dengan destinasi wisata yang kita tawarkan. Kedua, customer retention/loyalty di mana wisatawan berkunjung kembali dan loyal dengan destinasi wisata kita. Ketiga, customer advocacy di mana wisatawan merekomendasikan destinasi wisata kita kepada wisatawan lain.

Dadang Rizky Ratman mengatakan, investasi di sektor pariwisata diminati para investor asing maupun domestik. “Investasi di sektor pariwisata rata-rata mengalami pertumbuhan hingga 20% per tahun, dan tahun 2017 tercatat mencapai 31% atau Rp US$ 1,7 miliar,” kata Dadang.

Tingginya minat investor dalam berinvestasi di sektor pariwisata itu terlihat dalam forum pertemuan para investor pariwisata atau Regional Investment Forum 2018 (RIF) yang berlangsung di Yogyakarta baru-baru ini. Dalam forum tersebut dilaporkan investor asing yang tertarik menanamkan modalnya di sektor pariwisata antara lain dari Timur Tengah, Korea Selatan, AS, Jepang, Singapura, Taiwan, Malaysia, Australia, Tiongkok, Inggris, India, dan Rusia.