Pemerintah Tetapkan Bekerja Tidak Lagi Dari Rumah, Tapi Dari Bali

Tuesday, 25 May 21 Bonita Ningsih

Pandemi COVID-19 berdampak terhadap pariwisata di Indonesia, khususnya Provinsi Bali. Untuk itu, pemerintah melakukan berbagai langkah strategis untuk membantu memulihkan pariwisata di Bali.

Langkah terbaru yang dilakukan pemerintah adalah mencanangkan program Work From Bali (WFB). Program ini dicanangkan langsung oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) dan akan dilakukan oleh tujuh kementerian/lembaga di bawahnya. Tujuh K/L tersebut adalah Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian ESDM, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Kementerian Perhubungan, Kementerian PUPR, KLHK, dan Kementerian Investasi.

Untuk merealisasikan program tersebut, Kemenko Marves bersama tujuh K/L terkait dan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) melakukan penandatanganan nota kesepahamanan (MoU) terkait Work From Bali.

BACA JUGA:   Dapur dan Restoran Hotel Harus Bersertifikat Halal

Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, mengatakan, “Ini merupakan bagian dari kebijakan Kemenko Marves dan K/L di bawahnya untuk melakukan Work From Bali. Tujuannya adalah untuk memastikan agar kita berpihak terhadap saudara-saudara yang di Bali yang mengalami tekanan luar biasa.”

Menurut Sandiaga, program Work From Bali dilakukan sebagai pertolongan pertama terhadap sektor pariwisata di Bali. Pasalnya, terdapat 2 juta lebih lapangan pekerjaan di Bali terancam sehingga banyak pelaku usaha pariwisata yang kehilangan pekerjaannya.

“Padahal, selama ini Bali menjadi primadona pariwisata di Indonesia. Oleh karenanya, ini menjadi momen yang tepat bagi kita untuk mengulurkan tangan ke mereka agar pariwisata di Bali dapat bertahan di masa sulit ini,” harap Sandiaga.

BACA JUGA:   Parade Interior di MBtech Awards 2019 Batam

Kabar buruk lainnya datang dari tingkat hunian kamar hotel yang ada di Bali. Berdasarkan data yang diterima Kemenparekraf, tingkat hunian kamar untuk hotel berbintang masih di bawah 10 persen atau 8,99 persen. Sedangkan, tingkat hunian untuk hotel-hotel non bintang hanya 7,7 persen.

“Dengan rata-rata lama menginapnya itu hanya 2,67 hari untuk hotel berbintang dan 1,89 hari untuk non bintang,” Sandiaga menambahkan.

Bahkan, pada dua minggu terakhir ini, kunjungan wisatawan nusantara ke Bali menurun drastis akibat adanya larangan mudik dan pembatasan sosial. Namun, angka tersebut kembali naik pada 24 Mei 2021 di level 5.000 hingga 6.000 wisatawan nusantara.

Oleh sebab itu, diharapkan program Work From Bali ini dapat meningkatkan pariwisata dan juga ekonomi daerah. Pasalnya, pariwisata memiliki multiplier effect terhadap sektor-sektor terkait lainnya, seperti perhotelan, restoran, transportasi, hingga produk ekonomi kreatif.

BACA JUGA:   25 Persen ASN Akan Diusulkan Untuk Work From Bali

“Saat ini, skema bekerja di Bali sudah masuk ke tahap rumusan akhir. Kita juga mengajak pihak swasta dan juga ekspatriat untuk ikut andil dalam hal ini dengan melakukan kegiatan pertemuan atau rapat di Bali,” dia menambahkan.