Andre Prawiradisastra menjelaskan, 20.000 tembakan kembang api menjadi yang terbesar di Bali karena kalau dibandingkan dengan kembang api di Kuta tahun lalu itu kembang apinya tidak sampai 10.000. Andre menambahkan, pesta kembang api yang dikemas dalam kegiatan “Bali Countdown – The Biggest Fireworks Show in Bali” itu dipastikan akan diselenggarakan kembali pada tahun mendatang.
“Walaupun ini masih pertama, kami ingin dapat memukau masyarakat dan dapat terkenang sehingga tahun depan masyarakat bisa datang ke sini lagi karena sudah mengetahui kalau kembang api terbesar ada di kawasan Taman Budaya GWK,” katanya.
Sebelumnya, saat senja hingga tengah malam di pengujung tahun 2019, patung dari tembaga dan kuningan yang ditopang 21.000 batang baja seberat 2.000 ton serta baut sebanyak 170.000 buah ini tampak lebih memukau dengan kilauan permainan laser yang ditembakkan juga ke arah tebing-tebing batu yang menjadi ciri khas utama GWK.
Sudah sejak sore sekitar 10.000 pengunjung berdatangan dan memadati venue acara. Para pengunjung pun berdesak-desakan memasuki lokasi sambil ber-selfie ria dengan background patung GWK juga panggung dan sejumlah mobil antik yang ada di sekitar lokasi. Sambil menanti pesta kembang api, para pengunjung dihibur oleh pentas musik dengan sederet musisi idola, seperti Diskopantera, Feel Koplo, dan band kebanggaan Bali: Joni Agung & Double T. Beberapa DJ papan atas seperti Alex Seda, Sterly Lie, dan Ayuka turut memanaskan suasana malam dengan racikan music beat.
Event Bali Countdown 2020 sebelumnya dibuka pada tanggal 28 Desember 2019 oleh Wakil Gubernur Bali bertepatan dengan pameran Bali Classic Motor Show ke-3 yang menjadi pembuka acara. Selain itu GWK juga menyiapkan event bertajuk GWK MuFest 2019 yang berlangsung pada 28 Desember 2019 hingga 5 Januari 2020 dengan puluhan gerai makanan, minuman, serta berbagai food truck.





