Jika nantinya Kebun Raya Bogor sudah berhasil mendapatkan predikat World Heritage Site, Hendrian meyakini perhatian dunia terhadap Indonesia, khususnya Kebun Raya Bogor, akan jauh lebih besar. Dunia akan melihat bahwa Indonesia memiliki upaya untuk melindungi kebun raya menjadi sebuah tempat yang patut diperhitungkan.
“Nantinya, hal ini bukan hanya milik Bogor dan Indonesia, tetapi Kebun Raya Bogor akan menjadi milik dunia. Ini yang harus kita jaga,” ujar Hendrian.
Ke depannya, Hendrian ingin menjadikan Kebun Raya Bogor dari berbagai sudut pandang. Tidak hanya sebagai tempat penelitian, konservasi tumbuhan, pendidikan, wisata, dan jasa lingkungan saja, tetapi ia ingin memperkenalkan Kebun Raya Bogor dari aspek sejarah, budaya, ekonomi, dan juga tata kota. Hal ini juga sejalan dengan identitas kota Bogor sebagai smart city, heritage city, dan green city.
Di tempat yang sama, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengungkapkan sangat menantikan Kebun Raya Bogor sebagai pemegang World Heritage Site. Hal tersebut dilakukan untuk mendukung salah satu identitas kota Bogor, yakni sebagai heritage city.
“Kalau Kebun Raya Bogor sudah berhasil menjadi situs heritage, jadinya orang-orang tidak sulit mencari tempat yang ada unsur heritagenya. Nantinya, orang-orang yang jalan kaki di Kebun Raya Bogor bisa sambil merasakan futuristik yang ada di sana,” jelas Bima.
Pembicaraan mengenai penantian Kebun Raya Bogor sebagai World Heritage Site dikemas khusus ke dalam sebuah talk show yang dibuat oleh LIPI dan Kompas Gramedia. Talk show bertajuk “500 Tahun Konservasi Tumbuhan: Batu Tulis Hingga Kebun Raya Bogor” ini digelar pada 14 Februari 2020 di Bentara Budaya Jakarta.
Beberapa narasumber yang hadir ialah Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, Rektor Universitas Multimedia Nasional dan wartawan senior Harian Kompas Ninok Leksono, Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI R. Hendrian, peneliti etnobotani Pusat Penelitian Biologi LIPI M. Fathi Royyani, serta peneliti ekologi manusia Eko Baroto Waluyo.




