Kemacetan, Tantangan Pariwisata Bandung

Wednesday, 17 October 18   12 Views   0 Comments   Venue
Kemacetan di Jalan Asia Afrika Bandung.

Pariwisata menjadi sektor yang memberikan pemasukan signifikan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bandung. Dalam lima tahun terakhir, pariwisata menjadi andalan kota ini. Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kota Bandung tahun 2017, pajak daerah yang berasal dari sektor pariwisata (hotel, restoran, dan tempat hiburan) menyumbang Rp 659.227.500.992 (30,31 persen) dari total pendapatan pajak daerah sebesar Rp2.174.863.780.863.

Sektor pariwisata Kota Bandung saat ini menjadi penyumbang terbesar ketiga setelah BPHTB dan PBB. Sementara, nilai total investasi di sektor pariwisata tahun 2017 sebesar Rp276.306.114.860 (7,11 persen) dari total investasi tahun 2017.

Sebagai salah satu destinasi unggulan, Ibu Kota Jawa Barat ini menjadi daerah tujuan wisata, baik pelancong dalam dan luar negeri. Umumnya, mereka datang berwisata di akhir pekan. Dampaknya, pada akhir pekan arus lalu-lintas mengalami kepadatan, bahkan berujung pada kemacetan. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Kota Bandung, rata-rata kendaraan masuk melalui gerbang tol Pasteur mencapai 75.000 per hari, ditambah 1 juta lebih kendaraan yang berada di Kota Bandung.

Dewi Kaniasari, Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung, mengungkapkan, berdasarkan hasil survei pada awal 2017 menunjukkan sebanyak 40 persen wisatawan yang datang ke Kota Bandung masih mengeluhkan macet dan infrastruktur sebagai hal yang tidak disukai di Bandung. “Salah satu tantangan terbesar Bandung adalah tingkat kemacetan yang semakin tinggi,” ujar Dewi.

Wanita yang biasa disapa Kenny tersebut mengungkapkan penyebab utama kemacetan adalah tidak adanya kantong parkir yang memadai di sekitar obyek wisata. “Keberadaan kantong parkir di sekitar obyek wisata menjadi kebutuhan mendesak saat ini,” ujar Dewi.

Dirinya terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk meminimalisir tingkat kemacetan pada saat jumlah kunjungan wisatawan tinggi. “Sudah ada rencana kebijakan pemerintah untuk ganjil-genap penggunaan kendaraan pada beberapa ruas jalan,” terangnya.

Selain itu, Kenny juga mengungkapkan bahwa saat ini Pemerintah Kota Bandung terus meningkatkan fasilitas transportasi umum. “Sudah ada wacana untuk membangun fasilitas transportasi publik trem,” ujar Kenny.

Namun, menurut Kenny, hal ini menjadi peluang investasi dalam aspek aksesibilitas. “Panjang jalan di Kota Bandung dengan kondisi mantap saat ini mencapai 32.054 km. Dengan jumlah penduduk 2,4 juta jiwa, transportasi publik menjadi peluang investasi. Belum lagi berdasarkan survei di bulan Juni, 86 persen wisatawan menyatakan puas atas keberadaan Bandros dan Bike Share. Artinya, publik menyukai berwisata dengan transportasi publik yang lebih simpel,” tutup Kenny.

Penulis: Erwin Gumilar