Dampak wabah virus corona juga turut memukul industri penerbangan. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan bahwa pendapatan transportasi udara global akan berkurang 5% tahun ini, yang berarti akan terjadi penurunan sebesar US$29,3 miliar, sementara OPEC memprediksi penurunan permintaan minyak dunia sebesar 19%.
Kerugian industri pariwisata sampai dengan saat ini belum terpetakan meskipun telah menimbulkan kepanikan di seluruh dunia hingga menyebabkan pasar saham runtuh dan memengaruhi semua maskapai dan operator hotel di Amerika, Eropa, dan Asia.
Amerika Serikat juga turut andil memberikan dampak negatif pada pariwisata karena sebelum adanya peringatan oleh virus Corona pemerintah AS telah mengimbau pada perusahaan dan pusat-pusat publik untuk menghindari perjalanan dan pertemuan besar. Langkah ini berdampak besar pada salah satu destinasi paling populer di AS, yaitu Las Vegas.
Industri pariwisata menghadapi ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu peringatan kesehatan secara global, ketakutan melakukan perjalanan, serangan media yang dilebih-lebihkan serta berita hoax, bencana iklim, masalah perpajakan, kebangkrutan operator dan maskapai penerbangan, ketidakstabilan politik, dan perlambatan ekonomi di pasar besar yang mengisyaratkan setidaknya kontraksi global untuk bisnis pariwisata dalam waktu dekat.
Sementara itu, di China sekarang ada optimisme yang berkembang bahwa epidemi akan terkendali pada akhir April. Pulmonolog terkenal Zhong Nanshan, kepala tim pakar medis di Komisi Kesehatan Nasional China, mengatakan bahwa negaranya yakin dapat mengendalikan wabah virus Corona pada akhir April sesuai rencana.





