Pasca-Pandemi, Perjalanan Internasional Masih Jadi Incaran

Sunday, 19 July 20 Bonita Ningsih
Ilustrasi wisatawan MICE

Penyebaran virus COVID-19 yang melanda hampir di seluruh wilayah dunia membuat perjalanan pariwisata terhenti sementara. Pintu masuk wisata domestik maupun internasional juga ditutup sementara untuk mengurangi penyebaran virus COVID-19. Hingga kini pun masih banyak negara yang menutup perjalanan internasionalnya. Setiap negara lebih memilih untuk membuka perjalanan domestiknya terlebih dahulu untuk memulai kembali bisnis pariwisata.

Salah satu negara yang akan mulai membuka perjalanan domestik ialah Indonesia. Nia Niscaya, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, mengatakan, pembukaan pariwisata harus dilakukan secara bertahap mulai dari domestik kemudian disusul internasional. Menurutnya, perjalanan domestik akan dimulai lebih awal karena lebih mudah untuk melihat rekam jejak perjalanannya dan lebih mudah diawasi pergerakannya.

“Kalau tidak dimulai, mau kapan lagi kita menunggu? Karena terlalu lama kalau menunggu semuanya pulih. Kita tetap melakukan berbagai cara untuk menekan COVID-19, tetapi kita juga perlu menjaga perekonomian agar tetap berjalan,” kata Nia.

Sementara itu, untuk perjalanan internasional masih harus menunggu waktu lebih lama karena banyak negara yang terlibat di dalamnya. Menurutnya, berdasarkan informasi yang ia dapat dari lembaga internasional, setiap negara hanya dapat mengandalkan perjalanan domestik untuk saat ini.

“Domestik pariwisata yang bisa kita harapkan untuk bangkit di kondisi seperti ini. Diharapkan, dengan adanya domestik ini, pariwisata dan turunannya seperti maskapai penerbangan, hotel, restoran, dan lainnya akan kembali pulih,” ucap Nia lagi.

Meskipun perjalanan internasional masih membutuhkan waktu lama untuk pulih, ke depannya hal ini akan menjadi incaran bagi para wisatawan. Hal tersebut diutarakan oleh Roger Dow, Presiden dan CEO U.S. Travel Association, saat menghadiri Indonesia Tourism Forum (ITF) keempat melalui webinar bertajuk “The Future of Travel Business After the Crisis“.

Menurut Roger, sebelum pandemi COVID-19 melanda dunia, tren wisata internasional dapat mengalahkan pariwisata domestik. Melihat dari pengalaman tersebut, ia yakin bahwa ke depannya perjalanan internasional dapat kembali berkembang.

“Dulu itu memang industri domestik yang terkenal, tetapi sekarang industri global. Banyak masyarakat di berbagai wilayah dunia yang akan kembali datang dan menjadi pengunjung internasional,” ungkap Roger.

Roger mengatakan, agar perjalanan internasional dapat segera berjalan, diperlukan kerja sama yang baik antar-negara. Setiap negara harus memastikan bahwa setiap wisatawan yang berkunjung akan mendapatkan keamanan dan keselamatan saat bepergian.

“Kerja sama ini untuk memastikan bahwa pariwisata di setiap negara memiliki protokol yang sama. Jadi, masing-masing negara harus mengetahui semua kebijakan dan protokol yang dibuat negara lain,” jelasnya lagi.

Bahkan, ia juga yakin bahwa pariwisata dunia akan cepat pulih karena industri ini memiliki kekuatan tersendiri di dalamnya. Hal ini terlihat dengan banyaknya komentar negatif terhadap industri pariwisata, namun tidak ada yang dapat membenarkannya.

“Tahun 2007 atau 2008, di Amerika Serikat ada yang menyebutkan bahwa 30 persen hotel akan bangkrut, tetapi itu tidak pernah terjadi. Alasannya karena pariwisata itu membuka pintu ekonomi, setiap orang yang datang akan ada perputaran uang di dalamnya,” jelasnya lagi.