Bali Siap Sambut Wisatawan Cina

Sunday, 19 July 20 Bonita Ningsih
Turis Cina

Pemerintah provinsi Bali menyatakan siap untuk kembali menerima wisatawan mancanegara dari Cina pasca-pandemi berakhir. Berbagai persiapan mulai dari menekan laju penyebaran COVID-19 hingga menerapkan program clean, health, dan safety (CHS) akan dilakukan Pemprov Bali sebelum pintu wisata internasional resmi dibuka.

Trisno Nugroho, Kepala Bank Indonesia Cabang Provinsi Bali, menjelaskan, pasar wisman dari Cina memiliki peran penting bagi industri pariwisata nasional dan Bali. Bahkan, jumlah inbound wisman Cina ke Indonesia dan Bali mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir.

“Dari tahun 2015 itu inbound wisman Cina ke Indonesia dan Bali selalu mengalami kenaikan. Kenaikan turis Cina yang paling signifikan itu terjadi di tahun 2017,” ujar Trisno.

Berdasarkan data dari Bank Indonesia, pada 2019 wisman Cina tercatat sebagai penyumbang devisa tertinggi untuk travel nasional. Sementara untuk Bali, wisman Cina mampu menduduki peringkat kedua sebagai penyumbang devisa terbesar di sana, setelah Australia, dengan jumlah devisa sebesar US$16,89 miliar untuk Indonesia dan US$9,35 miliar untuk Bali.

“Dengan angka tersebut, kami di Bali siap untuk menyambut kembali wisman Cina pasca-pandemi. Saya juga optimistis bahwa nantinya pasar Cina akan masih besar untuk pariwisata di Bali,” ungkap Trisno.

Tidak hanya itu, alasan lain yang membuat Bali semangat menyambut kembali wisman Cina ialah adanya hubungan sejarah yang baik di antara keduanya. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Wakil Gubernur Bali, mengatakan, hubungan baik antara Bali dan Cina sudah terjalin sejak abad ke-12.

“Sejak abad tersebut, Bali dan Cina sudah memiliki hubungan dagang yang erat. Hal ini bisa dilihat dari situs peninggalan negara Cina yang sampai sekarang dapat kita temui di Bali,” ujar Cok Ace, begitu sapaan akrabnya.

Kendati sudah siap menyambut kembali wisatawan dari Cina, Pemprov Bali belum dapat memastikan kapan pintu wisata internasional dibuka. Menurut Ida Bagus Agung Partha Adnyana, Ketua Bali Tourism Board, pembukaan pintu pariwisata internasional harus dilakukan secara hati-hati agar tidak timbul dampak baru lainnya. Oleh karena itu, pihaknya masih menunggu dan melakukan evaluasi terkait kabar penyebaran COVID-19 di Bali.

“Kita masih harus melihat kurva, kalau masih di atas satu, berarti dinyatakan belum dapat dibuka untuk pariwisata. Membuka destinasi itu tidak bisa sembarangan, jadi kita juga harus pantengin dan mengikuti kurva-kurva tersebut,” jelas Gus Agung.