Peluang Bisnis Produk Halal di Eropa

Thursday, 17 September 20 Bonita Ningsih
MUFFEST 2019

Pergelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) secara virtual menarik lebih banyak partisipan dari berbagai negara dunia. Tidak hanya saat hari pelaksanaan, rangkaian acara ISEF 2020 seperti webinar juga telah melibatkan banyak negara sebagai partisipan. Hal ini terlihat saat menggelar webinar dengan tema “Global Halal Consumer Trend”.

Webinar persembahan dari Bank Indonesia dan Indonesia Halal Lifestyle Center ini membahas berbagai isu terkait industri halal di beberapa negara. Tidak hanya dari Indonesia, webinar ini menghadirkan pembicara dari Eropa untuk membahas tren industri halal di negaranya.

Di Eropa, industri halal memang bukan menjadi sebuah topik utama yang harus dibahas secara mendetail. Pasalnya, kaum muslim di Eropa masih terbilang minoritas sehingga penggunaan produk halal belum menjadi tren di negara tersebut.

Barbara Ruiz Bejarano, Director of International Relations Institutohalal, Spanyol, menjelaskan bahwa populasi orang Islam di Eropa hanya sekitar dua hingga enam persen dari 50 juta penduduk di sana. Menurutnya, kaum muslim di Eropa sebagian besar berada di UK, Prancis, dan Jerman.

Kendati menjadi kaum minoritas, ia menyebutkan, sudah ada beberapa perusahaan di Eropa yang memproduksi berbagai produk halal di sana. Bahkan, sudah ada beberapa outlet kecil yang menyediakan produk-produk halal seperti makanan dan minuman.

“Di Eropa itu sudah ada beberapa perusahaan yang memproduksi produk halal, tetapi memang tidak banyak muslim yang terlibat sebagai pekerja di dalamnya. Ini yang harus kita perbaiki lagi ke depannya terkait prinsip halal di Eropa,” ungkapnya.

Saat ini, berbagai produk halal tidak hanya dapat ditemukan secara fisik, tetapi juga secara daring. Bahkan, dalam situasi pandemi, penjualan produk halal secara daring mengalami peningkatan yang cukup signifikan melalui Quick Commerce.

Melihat kondisi tersebut, ia menilai masih banyak peluang yang akan diperoleh jika memulai bisnis produk halal di Eropa. Tidak hanya bagi pelaku usaha di Eropa, tetapi peluang ini juga terbuka bagi pelaku usaha dari negara lain. Oleh sebab itu, ia menganggap bahwa rangkaian kegiatan ISEF 2020 ini menjadi sebuah langkah baik untuk memberitahukan kepada masyarakat dunia bahwa di Eropa sudah mulai terbuka terhadap produk halal.

“Melalui acara ini saya ingin bilang bahwa Indonesia punya peluang untuk investasi di Eropa, melakukan kerja sama dan memperluas rantai halal di sana. Saya juga melihat bahwa tren pembelian secara daring ini akan tetap bertahan meskipun pandemi telah usai,” ucapnya lagi.

Industri halal tidak hanya erat kaitannya dengan makanan dan minuman, tetapi juga terkait fesyen. Dalam hal ini, penyediaan busana muslim menjadi salah satu bentuk fesyen yang halal karena dianggap dapat menerapkan syariat Islam di dalamnya.

“Muslim itu harus menerapkan kebersihan dan kesopanan sehingga penggunaan busana muslim dinilai tepat untuk menjawab fesyen ini,” kata Alia Khan, Chairwoman Islamic Fashion and Design Council.

Ia mengatakan, saat ini tren busana muslim berkembang di masyarakat seiring dengan bertumbuhnya komunitas muslim di dunia. Sebagai salah satu pelaku industri fesyen muslim dunia, ia memberikan perspektif berbeda agar busana muslim dapat diterima secara baik bagi seluruh masyarakat di dunia.

“Saya menggunakan ilmu pengetahuan islamic modest fashion untuk pasar global. Di sini, saya memperlihatkan sebuah busana yang elegan dan menarik, tetapi tidak melanggar ketentuan dari syariat Islam,” jelas Alia.

Melalui kegiatan ISEF, ia berharap pasar busana muslim akan semakin berkembang di kalangan internasional karena melibatkan banyak negara. Dengan begitu, peluang desainer muslim akan semakin besar dan memiliki peluang dapat dikenal secara global.

“Fesyen muslim ini sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu kala, melalui fesyen ini, kita bisa menjadi diri sendiri sehingga terlihat unik dan cantik,” dia menambahkan.