Pertumbuhan Hotel di Surabaya Melambat, Pelaku Usaha Diminta Adaptif

Friday, 09 January 26 Bonita Ningsih

Jakarta, Venuemagz.com – Adanya kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pada tahun 2025 memukul para pelaku hotelier khususnya yang berada di kota bisnis. Surabaya menjadi salah satu daerah yang paling berdampak terhadap pertumbuhan hotel di sana. 

“Sama seperti Jakarta, daerah ini juga masih tertekan dengan penghematan anggaran pemerintah. Banyak event ditunda, skala MICE mengecil yang memengaruhi performa hotel Surabaya khususnya pada paruh pertama tahun,” kata Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia dalam acara Colliers Virtual Media Briefing Q4 2025 pada 7 Januari 2026.

Pertumbuhan hotel di Surabaya juga dinilai lambat dari segi pasok sejak tahun 2025 hingga 2028 mendatang. Dari periode tersebut, hanya ada tiga pasok hotel baru di Surabaya yaitu dua hotel pada tahun 2025 dan satu di tahun 2026.

BACA JUGA:   Mei Seru di Millennium Hotel Sirih Jakarta

“Jadi, di tahun ini hingga 2028 mendatang hanya akan ada satu hotel saja yang resmi beroperasi di Surabaya,” Ferry menambahkan. 

Dua hotel yang resmi beroperasi sepanjang tahun 2025 adalah Excotel Design Hotel Surabaya di bagian Selatan dan juga aLoft Hotel di Pakuwon City Mall 2. Masing-masing hotel menghadirkan 111 kamar dan juga 233 kamar yang dapat menunjang para tamu bisnis maupun leisure saat berkunjung ke Surabaya.

“Hanya ada dua hotel bintang empat yang baru masuk di tahun 2025. Hal ini menandakan bahwa segmen hotel bintang empat menjadi tulang punggung pasar,” ujar Ferry.

Menurut Ferry, bukan tanpa alasan mengapa hotel bintang 4 yang mendominasi hotel baru di Surabaya sepanjang tahun 2025. Ia menilai, hotel bintang 4 menawarkan harga ideal bagi pasar domestik yang masih mendominasi tamu-tamu di Surabaya.

BACA JUGA:   Daftar Hotel Baru di Jakarta, Surabaya, dan Bali Hingga Tahun 2028

“Pasar domestik ini sangat sensitif terhadap biaya, jadi, hotel bintang 4 ini menawarkan harga pas dan masuk ke dalam standar tamu bisnis juga,” ucapnya lagi.  

Sementara itu, satu hotel yang akan hadir pada periode 2026-2028 adalah The Trans Luxury di Surabaya Selatan. Hotel bintang lima ini akan hadir pada tahun 2026 dengan 200 kamar di dalamnya. 

Dengan demikian, pertumbuhan hotel baru di Surabaya menjadi yang paling sedikit jika dibandingkan dengan pasok Jakarta dan Bali. Oleh sebabnya, pelaku hotelier diminta adaptif terhadap melambatnya pertumbuhan hotel di Surabaya baik dari segi bisnisnya maupun pasok. 

“Tahun 2026 bukan menjadi tahun yang mudah bagi hotel di Surabaya sehingga mereka harus adaptif. Jadi, mereka masih bisa punya peluang untuk bertahan dan tumbuh selama beberapa tahun ke depan,” katanya. 

BACA JUGA:   Carlson Rezidor akan Membuka Resor MICE dan Golf di Batam

Beberapa langkah adaptif yang disarankan Colliers adalah dengan menguatkan penjualan di Online Travel Agent (OTA) hingga mengemas paket acara dan food and beverage secara menarik. OTA menjadi pasar yang kuat karena 1/3 pemesanan hotel di Surabaya datang dari sana baik untuk tamu individu, korporasi, atau instansi pemerintah.

“Ini karena OTA menawarkan harga kompetitif dan skema pembayaran yang lebih fleksibel. Menjadi sangat penting bagi hotel untuk menjual kamar-kamarnya di tengah kondisi ini,” tutup Ferry.