MICE di Era Industri 4.0

Wednesday, 16 October 19 Bayu Hari
MICE 4.0

Pesatnya perkembangan teknologi hanya menjadi momok bagi mereka yang tak bisa beradaptasi. Alih-alih teknologi sejatinya justru mempermudah pelaku di industri MICE guna menjalankan roda bisnisnya.

Oleh: Bayu Hari, Bonita Ningsih, Harry Purnama, Herry Derajat

Melompat mundur ke tahun 80an, ketika teknologi internet belum semasif saat ini, mengurusi kegiatan meeting atau convention bukanlah pekara mudah. Untuk menyiapkan dokumen tender atau bidding misalnya, berkas tebal harus disiapkan organizer secara manual. Teknis di lapangan pun rumit, terlebih kegiatan dihadiri oleh banyak kepala negara.

“Bagi pelaku di bisnis meeting dan convention, perkembangan teknologi justru mempermudah pekerjaan organizer. Semuanya menjadi lebih praktis, efisien, serta menghemat waktu dan biaya,” kata Susilowani Daud, Direktur Utama Pacto Convex.

Teknologi teleconference misalnya. Teknologi itu dapat mempermudah penyelenggara mendatangkan pembicara ternama secara virtual. Menurut Susilowani, pembicara top dunia tak memiliki banyak waktu untuk datang ke sebuah acara konferensi. Selain itu biaya untuk mendatangkan mereka ke Indonesia pun tak sedikit.

“Melalui teknologi itu menjadi sangat mungkin. Kualitas pembicara menjadi berbobot, sementara itu biaya yang dikeluarkan juga dapat dihemat,” kata Susilowani.

Di industri pameran, perkembangan teknologi digital memengaruhi model bisnis perusahaan pameran dalam menyelenggarakan sebuah acara. Menurut Dede Koswara, Ketua DPD Asperapi Jabar, perkembangan teknologi digital membuat kinerja pameran berkonsep ritel atau B2C terjun bebas.

“Dahulu, pada pameran B2C, pemberian promo, voucher diskon, doorprize dan hadiah langsung menjadi daya tarik pameran. Tapi itu konsep itu sekarang dilakukan di online shop. Jadi ada kemiripan konsep cara berjualan di pameran dan online shop,” kata Dede.

Walhasil, biaya berjualan di online shop yang lebih murah menjadi pilihan banyak produsen, dan kemudian mereka meninggalkan cara berjualan di pameran. Tak ayal banyak pameran berkonsep B2C yang kemudian menghilang.

Menurut Dede, agar tak terdisrupsi, penyelenggara pameran harus inovatif dan kreatif menyuguhkan sebuah konsep pameran. “Acara-acara atau isu-isu yang dibutuhkan masyarakat ditampilkan dipameran, karena itu tidak mungkin dapat dilakukan dalam platform online shop sehingga pameran ramai pengunjung,” katanya.

Pentingnya konten sebuah konsep pameran diakui oleh Dyandra Promosindo. Setidaknya itu tecermin dalam penyelenggaraan IIMS 2019 beberapa waktu lalu. “IIMS dikelola berdasarkan tiga pilar: hiburan, edukasi, dan bisnis. Sebagai sebuah brand, pengelolaan IIMS juga bukan sekadar dagang mobil, dia dikelola sebagaimana destinasi sebagai tempat hiburan, tapi ada unsur edukasi dan bisnisnya,” kata Hendra Noor Saleh, Direktur Utama Dyandra Promosindo. 

Sebagai wahana hiburan dan edukasi, konsep acara yang ditawarkan kepada pengunjung sangat beragam. Jumlahnya mencapai belasan acara dan mengakomodasi kebutuhan pengunjung, mulai dari balita hingga lansia. Beberapa acara itu di antaranya: panggung musik, Miss IIMS, test drive, off road activities, kontes audio dan modifikasi, parade mobil klasik, student experience day, hingga menyiapkan zona edukasi mengemudi untuk anak.

Terkait dengan pemanfaatan teknologi, Dyandra juga telah melakukannya dengan menggunakan sistem Near Field Communications (NFC) pada wristband (gelang elektronik). Melalui teknologi itu, Dyandra dapat menghimpun data profil pengunjung IIMS semisal nama, alamat email, nomor telepon, dan domisili. Itu merupakan upaya IIMS menuju revolusi indutri 4.0.

Menurut Hendra, 500 ribu pengunjung IIMS itu potensi pasar yang besar apabila data digitalnya dapat dikelola menjadi data marketing. Ia mencontohkan data marketing itu dapat dimanfaatkan oleh perusahaan peserta pameran untuk mengetahui profil pengunjung stan.

“Transaksi di IIMS janggan hanya dilihat dari jual beli. Tapi akuisisi data juga dapat terjadi. IIMS ingin menjadi industri terdepan dari sisi digital,” kata Hendra.

Lalu bagaimana dengan bisnis incentive travel di era industri 4.0? Menurut Pauline Suharno, Sekjen Astindo (Asosiasi Travel Agent Indonesia) ceruk bisnis ini akan tetap bertumbuh. Pasalnya, perusahaan tak mau ribet ketika memberikan insentif berupa perjalanan wisata kepada karyawan terbaiknya.

“Untuk menangani grup incentive banyak komponennya. Ada program tur, tiket pesawat, akomodasi, ruang pertemuan, dan kebutuhan makan dan minum para peserta. Sehingga perusahaan masih akan butuh peran travel agent untuk mengerjakan programnya,” kata Pauline.

“Terpenting di era saat ini pelaku harus kreatif dalam mengemas konsep yang menarik untuk kliennya. Selain itu, melalui teknologi, membuat proses bisnis menjadi lebih efisien dan efektif,” katanya.

Hal senada diungkapkan Harry Dwi Nugraha, Founder Ego Global Network. Menurut teknologi membuat proses bisnis menjadi lebih efisien. Oleh karena itu wajib hukumnya untuk beradaptasi dengan teknologi, apabila tidak maka akan tergerus zaman.