Sinergi Lintas Sektor Diperlukan untuk Mengembangkan Kawasan Kota Tua

Monday, 18 February 19 Bonita Ningsih
kota tua jakarta
Foto: Venuemagz/Erwin

Pengembangan kawasan Kota Tua Jakarta masih terus dilakukan hingga sekarang. Berbagai cara dilakukan secara optimal oleh para pemangku kepentingan agar kawasan Kota Tua menjadi destinasi wisata unggulan yang berada di Jakarta. Salah satu cara yang dilakukan ialah dengan melakukan sinergi antar-pemerhati dan pemangku kepentingan agar Kota Tua dapat berkembang secara baik.

Untuk itu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta bersama Jakarta Tourism Forum (JTF) menyelenggarakan forum diskusi terkait sinergi pengembangan kawasan Kota Tua yang dilaksanakan 13 Februari 2019 di Museum Mandiri, Jakarta.

Pembicara dalam forum diskusi tersebut ialah Norviadi S. Husodo selaku Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua, Firman Haris sebagai Ketua Harian Local Working Group Destination Management Organization (LWG DMO) Kota Tua Jakarta, Yiyok T. Herlambang sebagai Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) DKI Jakarta, dan Hendry Surjadi selaku pemilik Mel’s Dorm.

Awalnya, perkembangan revitalisasi kawasan Kota Tua memang sudah tercetus di era Gubernur Ali Sadikin pada tahun 1972. Namun, seiring berjalannya waktu, menurut Firman, pengembangan revitalisasi Kota Tua seperti “jalan di tempat” lantaran belum ada hasil yang memuaskan.

“Ini yang bilang jalan di tempat itu UNESO karena salah satu tolak ukurnya itu adalah historic city yang diakui dunia, dan kita belum punya itu,” ujar Firman.

Masalah itu terjadi lantaran sejak dicanangkannya pengembangan revitalisasi Kota Tua, belum ada road map atau grand design terkait pengembangan kawasan Kota Tua. Menurut Firman, Peraturan Gubernur (Pergub) terkait Induk Kawasan Kota Tua baru muncul pada tahun 2014.

“Dan lucunya sampai sekarang belum pernah disosialisasikan terkait Pergub itu,” ujar Firman.

Untuk itu, melalui forum diskusi ini, Firman berharap agar ada komunikasi yang baik antar-pemerhati dan pemangku kepentingan dalam mengembangkan kawasan Kota Tua. Menurutnya, revitalisasi itu memiliki makna pada penataan fisik sehingga diperlukan komunikasi, koordinasi, sinkronisasi, dan kolaborasi antar-sektor.

Senada dengan Firman, Norviadi mengungkapkan bahwa pengembangan kawasan Kota Tua memerlukan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, hingga stakeholder sehingga harus ada formulasi dan kesepahaman yang tepat dalam mengambil sebuah kebijakan.

Bahkan, Norviadi mengungkapkan, kawasan Kota Tua memiliki potensi yang baik dalam sektor pariwisata sehingga diperlukan ide dan terobosan terbaru untuk membangun pariwisata di kawasan Kota Tua yang nantinya dapat meningkatkan perekonomian.

Pernyataan tersebut juga disetujui oleh Yiyok. Sebagai Ketua AMI DKI Jakarta, Yiyok melihat ada potensi yang bagus dalam mengembangkan pariwisata Kota Tua. Bahkan, menurut data pada tahun 2018, sektor pariwisata menduduki peringkat dua setelah sektor pertanian.

“Unsur wisata ini akan jadi salah satu kekuatan di Jakarta asalkan kita semua dapat menyatu dan bersinergi antara bisnis, komunitas, dan para pemangku kepentingan lainnya,” ujar Yiyok.

Hal tersebut disambut baik oleh Alberto Ali. Alberto mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan sinergi yang baik dengan para pemerhati dan pemangku kepentingan.

“Ayo pikirkan sinergi apa yang harus kita lakukan? Perbanyak diskusi seperti ini agar kita dapat bersinergi secara baik sehingga kita mampu mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dapat membangun kawasan Kota Tua untuk lebih baik,” ujar Alberto.