Tamarindelaan: Lumbung Hotel di Pusat Jakarta

Friday, 06 September 19 Bayu Hari
Hotel di Jalan Wahid Hasyim

Ruas jalan KH. Wahid Hasyim, Jakarta, bak medan perang bagi operator hotel. Di jalan yang panjangnya tak lebih dari 3.000 meter itu berjajar sekitar 23 hotel berbintang yang mengoleksi kurang lebih 3.000 kamar. Meskipun kompetisi ketat, rerata tingkat hunian di kawasan ini bertengger di angka 80 persen.  

“Jalan ini merupakan lumbung. Area Wahid Hasyim sangat empuk karena supply-nya masih oke, dan demand masih lebih terus,” kata Eduard Rudolf Pangkerego, COO Artotel Group. Menilik besarnya kue bisnis itulah yang membuat Artotel Group percaya diri membuka hotel anyar pada April lalu di Jalan KH. Wahid Hasyim.

Jalan yang pada masa penjajahan Belanda bernama Tamarindelaan, memang merupakan kawasan penyanggah pusat kota Jakarta untuk wilayah Sudirman-Thamrin. Dari kacamata hoteliers, jalanan ini memiliki target market kelas menengah dari kalangan business travelers. Setidaknya itu tecermin dari harga kamar yang bervariasi mulai dari Rp500 ribu hingga Rp1 juta.   

BACA JUGA:   Sandiaga Uno: Magnet Bali Masih Terlalu Kuat

“Kalau manajernya tinggal di hotel bintang 5 di area Sudirman-Thamrin, pasti yang level kedua ini akan tinggal di hotel yang levelnya lebih bawah. Jadi mereka tidak berjauhan. Kita mencari market yang peluangnya sangat besar. Seperti piramid, kalau di pemerintahan itu eselon 1 dan 2 ada di puncaknya. Nah kita mencari yang di tengah, ini karena lebih besar,” kata Eduard.

Pendatang baru lainnya di kawasan ini adalah Erian Hotel. Mengoleksi sekitar 71 kamar, hotel yang dinahkodai oleh Manuel Meyrick resmi beroperasi pada Mei 2019 lalu. Menurut Manuel, pangsa pasar di kawasan ini masih baik, terutama untuk ceruk pasar kelas menengah.

BACA JUGA:   Rapat di Dalam Akuarium Raksasa

Sementara itu, Dafam Hotel Management sebentar lagi juga akan meramaikan persaingan hotel di Jalan KH. Wahid Hasyim. “Pasarnya masih open. Kami telah melakukan SWOT analisisis. Jadi kami cukup yakin pada hasil yang akan didapat. Kami akan segera buka Dafam Express di dekat wilayah itu,” kata Andhy Irawan, CEO Dafam Hotel Management.

Bagi Hotel Cipta, pemain lama yang telah hadir sejak 28 tahun lalu di Jalan KH. Wahid Hasyim, kue bisnis hotel di kawasan ini dirasakan kian mengecil karena kian maraknya kompetitor. “Okupansi rata-rata 50 persen, karena terlalu banyak supply, akhirnya persaingan tidak sehat, banting-bantingan harga,” kata Rubyeta Siswono, General Manager Hotel Cipta.

BACA JUGA:   Strategi Pengembangan Pariwisata Seoul Sampai 2023

Perang harga di kawasan ini akan sangat terlihat pada saat week end. Mafhum, sebagian besar hotel di kawasan ini bergantung pada pasar pemerintahan dan korporasi. Menurut Eduard, hotel di kawasan ini sepi pada hari Sabtu dan Minggu. “Karena mayoritas tamu mereka business travelers. Kalau supply lagi rendah, yang dilakukan oleh hotel-hotel adalah price war,”katanya.