BerandaNewsTamarindelaan: Lumbung Hotel di Pusat Jakarta

Tamarindelaan: Lumbung Hotel di Pusat Jakarta

Published on

spot_img

Ruas jalan KH. Wahid Hasyim, Jakarta, bak medan perang bagi operator hotel. Di jalan yang panjangnya tak lebih dari 3.000 meter itu berjajar sekitar 23 hotel berbintang yang mengoleksi kurang lebih 3.000 kamar. Meskipun kompetisi ketat, rerata tingkat hunian di kawasan ini bertengger di angka 80 persen.  

“Jalan ini merupakan lumbung. Area Wahid Hasyim sangat empuk karena supply-nya masih oke, dan demand masih lebih terus,” kata Eduard Rudolf Pangkerego, COO Artotel Group. Menilik besarnya kue bisnis itulah yang membuat Artotel Group percaya diri membuka hotel anyar pada April lalu di Jalan KH. Wahid Hasyim.

BACA JUGA:  Arief Yahya Lantik Shana Fatina sebagai Direktur BOP Labuan Bajo

Jalan yang pada masa penjajahan Belanda bernama Tamarindelaan, memang merupakan kawasan penyanggah pusat kota Jakarta untuk wilayah Sudirman-Thamrin. Dari kacamata hoteliers, jalanan ini memiliki target market kelas menengah dari kalangan business travelers. Setidaknya itu tecermin dari harga kamar yang bervariasi mulai dari Rp500 ribu hingga Rp1 juta.   

“Kalau manajernya tinggal di hotel bintang 5 di area Sudirman-Thamrin, pasti yang level kedua ini akan tinggal di hotel yang levelnya lebih bawah. Jadi mereka tidak berjauhan. Kita mencari market yang peluangnya sangat besar. Seperti piramid, kalau di pemerintahan itu eselon 1 dan 2 ada di puncaknya. Nah kita mencari yang di tengah, ini karena lebih besar,” kata Eduard.

BACA JUGA:  Menparekraf Ingin Jadikan Destinasi Wisata Sebagai Sentra Vaksinasi

Pendatang baru lainnya di kawasan ini adalah Erian Hotel. Mengoleksi sekitar 71 kamar, hotel yang dinahkodai oleh Manuel Meyrick resmi beroperasi pada Mei 2019 lalu. Menurut Manuel, pangsa pasar di kawasan ini masih baik, terutama untuk ceruk pasar kelas menengah.

Sementara itu, Dafam Hotel Management sebentar lagi juga akan meramaikan persaingan hotel di Jalan KH. Wahid Hasyim. “Pasarnya masih open. Kami telah melakukan SWOT analisisis. Jadi kami cukup yakin pada hasil yang akan didapat. Kami akan segera buka Dafam Express di dekat wilayah itu,” kata Andhy Irawan, CEO Dafam Hotel Management.

BACA JUGA:  Ini Syarat Menonton BNI Java Jazz Festival 2022

Bagi Hotel Cipta, pemain lama yang telah hadir sejak 28 tahun lalu di Jalan KH. Wahid Hasyim, kue bisnis hotel di kawasan ini dirasakan kian mengecil karena kian maraknya kompetitor. “Okupansi rata-rata 50 persen, karena terlalu banyak supply, akhirnya persaingan tidak sehat, banting-bantingan harga,” kata Rubyeta Siswono, General Manager Hotel Cipta.

Perang harga di kawasan ini akan sangat terlihat pada saat week end. Mafhum, sebagian besar hotel di kawasan ini bergantung pada pasar pemerintahan dan korporasi. Menurut Eduard, hotel di kawasan ini sepi pada hari Sabtu dan Minggu. “Karena mayoritas tamu mereka business travelers. Kalau supply lagi rendah, yang dilakukan oleh hotel-hotel adalah price war,”katanya.

spot_img
spot_img

Megabuild, Keramika, dan Megaproperty 2026, Tiga Ekosistem Industri Satu Expo

Jakarta, Venuemagz.com -  Ribuan profesional memadati lantai pameran konstruksi di NICE PIK 2 sejak...

Bali Menjadi Tuan Rumah Asian Open Water Swimming Championship 2026

Jakarta, Venuemagz.com -- Untuk pertama kalinya Indonesia akan menjadi tuan rumah pelaksanaan lomba renang...

Satu Dekade INDOFEST: Gen Z Bawa Harapan Baru Wisata Petualangan

Jakarta, Venuemagz.com – Indonesia Outdoor Festival (INDOFEST) 2026 kembali hadir sebagai pameran perlengkapan kegiatan...

ArtMoments Jakarta 2026: Panggung Lintas Budaya yang Membawa Seni Lokal ke Kancah Global

Jakarta, Venuemagz.com - ArtMoments Jakarta resmi dibuka pada tanggal 4 dan berakhir 7 Juni...

Kompetisi Barista Perkenalkan Susu Kedelai untuk Kopi

Bertepatan dengan Hari Kopi Internasional pada 1 Oktober, V - Soy minuman susu kedelai...