“Saya melihat prosesnya ini bisa memakan waktu yang cukup lama, hingga 12 bulan ke depan,” Hardy menambahkan.
Meski terbilang cukup lama, pemulihan pariwisata dapat dibantu lebih cepat dengan memanfaatkan teknologi. Ia meyakini, bahwa teknologi memiliki peluang yang besar untuk industri pariwisata bangkit dari keterpurukan virus COVID-19.
Lebih lanjut ia mengatakan, pelaku usaha harus mempersiapkan strategi khusus untuk mengurangi kontak dalam aktivitas atau touchless. Hal ini tentu berkaitan erat dengan teknologi sehingga diperlukan pemahaman lebih terkait penggunaannya.
“Touchless program dan teknologi lainnya sebenarnya sudah ada sebelum COVID-19, tetapi sekarang ini jadi accelerating. Ini yang harus ditekankan bahwa penggunaan teknologi akan menjadi krusial,” ujarnya.
Oleh karenanya, saat ini menjadi waktu yang tepat untuk mempersiapkan program tersebut agar dapat meminimalisir kontak wisatawan satu dengan yang lain. Selain itu, asuransi perjalanan juga dinilai akan menjadi salah satu aspek yang menjadi pertimbangan wisatawan saat melakukan perjalanan pasca-pandemi.




