Taman Bumi Belitong Dikelola Secara Berkelanjutan

Friday, 17 May 19 Bayu Hari

Konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan diterapkan di taman bumi atau geopark dengan memperhatikan aspek pemberdayaan ekonomi, serta pelestarian alam dan budayanya.

Secara umum, prinsip pengelolaan pariwisata berkelanjutan masih harus lebih dipahami oleh pelaku pariwisata nasional. Guna memperdalam wawasan tentang itu, Kementerian Pariwisata menggelar Bimbingan Teknis Pengelolaan Destinasi Pariwisata Berkelanjutan kepada para pengelola destinasi dan pemerintah daerah di Kawasan Geopark Belitong.

“Ini merupakan standar yang telah ditetapkan Kemenpar di dalam Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 14 Tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan,” kata Kepala Bidang Ekosistem Pariwisata pada Asdep Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata (PIEP) Kemenpar Khabib Suwayah, dalam acara yang berlangsung pada Rabu (15/5/2019) di Kawasan Geopark Belitong.

Menurutnya, implementasi pariwisata berkelanjutan sangat sesuai untuk diintegrasikan dengan destinasi geowisata di Belitung yang menawarkan sumber daya keanekaragaman hayati dan budaya lokal.

Sementara itu, Hermanto, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung mengatakan salah satu keunggulan pariwisata di Belitung adalah keberadaan geopark sebagai daya tarik wisata alam.

“Sebagai bentuk pariwisata yang diunggulkan di Belitung, upaya pengembangan geopark disandingkan dengan kaedah-kaedah budaya lokal dan lingkungan, dan tata kelola yang berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Oman Abdurrahman dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menambahkan pengembangan destinasi wisata bumi atau geowisata merupakan wujud dari pengelolaan aspek geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity dalam konsep geopark

Menurutnya, pengelolaan kegiatan pariwisata di kawasan geopark menentukan kualitas sumber daya alam dan keberagaman budaya untuk dapat secara berkelanjutan dinikmati wisatawan.

“Potensi Geopark Belitong juga didukung oleh penetapan wilayah Tanjung Kelayang sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata. Oleh karenanya, upaya pengembangan destinasi di kawasan Geopark Belitong harus menjadi kesatuan pembangunan kepariwisataan berbasis konservasi maupun edukasi di Belitung,” katanya.

Dalam acara tersebut, dijelaskan pula mengenai 41 kriteria dan 104 indikator destinasi pariwisata berkelanjutan yang tertera dalam Permenpar 14/2016 oleh Koordinator Monitoring Center of Sustainable Tourism Observatory (MCSTO) Tanjung Kelayang, Hirmas Fuady Putra dari Institut Pertanian Bogor. 

Tidak hanya pemaparan teori dan konsep, dalam acara itu para peserta juga diajak langsung untuk melihat geosite Bukit Peramun. Di sana, peserta diajak berdiskusi untuk mengidentifikasi sejauh mana Peramun menerapkan kriteria dan indikator berkelanjutan tersebut. 

Hirmas menilai, Bukit Peramun sudah cukup memenuhi standar tata kelola destinasi, memberikan manfaat ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat, dan telah memiliki beragam upaya konservasi lingkungan dan budaya lokal. Dan ini dapat menjadi pembelajaran untuk diterapkan di destinasi lainnya.