Kuliner Khas Melayu Pemanja Lidah di Siak

Friday, 21 September 18   11 Views   0 Comments   Venue
Kuliner siak

Mencicipi kuliner lokal merupakan kegiatan yang wajib dilakukan saat berwisata, termasuk di Siak. Salah satu tempat makan khas yang tersohor di Siak Sri Indrapura ialah Kantin Bude. Letaknya di Jalan Datuk Kampar, sekitar 150 meter berjalan kaki dari Istana Siak.

Jangan pernah membayangkan tempat makan mewah dengan penyejuk udara, Kantin Bude hanyalah warung sederhana berdinding kayu. Kapasitasnya pun tidak banyak. Hanya ada dua meja panjang yang masing-masing menampung delapan orang, ditambah satu meja berkapasitas empat orang.

Apabila Anda datang dalam grup, mintalah makanan untuk dihidangkan. Nanti, Kamsiyah, Pemilik Kantin Bude, akan meminta pegawainya untuk menyajikan aneka lauk di dalam piring berukuran sedang. Tersedia kakap merah asam pedas, gulai siput, pepes ikan kembung, bawal sambal balado, rendang kerang, ayam bakar, dan bilis jengkol balado di sini.

Untuk sayuran, ada tumis sayuran, gulai pare, dan lalapan daun tenggek burung. Lalapan ini paling nikmat disantap dengan sambal terong balacan yang menghadirkan rasa pedas sekaligus asam di lidah. Sambal ini terbuat dari campuran balacan dan terasi yang telah disangrai, lalu dicampur dengan bumbu ulek mentah (cabai, bawang merah, bawang putih) serta diberi perasan jeruk kesturi. Inilah rahasia di balik sensasi rasa pedas sekaligus segar sambal terong balacan.

Menurut Kamsiyah, kuliner Melayu sangat identik dengan penggunaan rempah serta dominasi rasa pedas dan asam. “Kalau kuliner Minang terkenal dengan penggunaan santan, Melayu menonjolkan penggunaan bumbu. Itulah alasan menu andalan kami ialah asam pedas. Jenis ikan yang dipilih pun tidak melulu kakap merah, bisa juga ikan tapah dan baung. Sebagian besar bahan baku, terutama ikan, kami datangkan dari Bagansiapiapi dan Siak,” kata Kamsiyah yang membuka Kantin Bude sejak tahun 1994 tersebut.

Untuk harga, Kantin Bude terbilang ekonomis. Kakap merah asam pedas misalnya, dibanderol Rp25.000 per porsi. Namun, apabila menu asam pedas menggunakan ikan tapah dihargai lebih mahal, sekitar Rp40.000 per porsi. Sementara menu lainnya dibanderol Rp20.000 hingga Rp25.000 per porsi.

Wisata Religi di Siak

Lepas mengisi perut, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke destinasi lain. Menariknya, titik wisata di Siak Sri Indrapura saling berdekatan. Dari Kantin Bude misalnya, wisatawan hanya perlu berjalan kaki sejauh 150 meter menuju Masjid Syahabuddin yang berada di Jalan Sultan Ismail.

Dominasi warna kuning dengan aksen hijau mencolok serta arsitektur unik menjadi daya tarik utama masjid ini. Sultan Syarif Kasim II memulai pembangunan masjid ini pada tahun 1927 dan selesai delapan tahun kemudian. Meski pengembangan masjid didanai Kesultanan Siak Sri Indrapura, masyarakat lokal, terutama kaum ibu, turut memberi andil besar. Pada malam hari, secara gotong royong mereka membantu pembuatan fondasi masjid.

Gaya rancang bangun masjid ini mengusung arsitektur Islam India dan Melayu. Serupa dengan Taj Mahal, masjid ini juga menggunakan kubah bawang dengan sentuhan Melayu pada kubah utama yang berada di atas ruang salat. Interior masjid didominasi warna putih dengan aksen hijau dan dihiasi kaligrafi yang dipermanis sebuah lampu kristal. Langit-langit masjid dirancang menjulang setinggi enam meter dengan pola segi delapan yang ditopang delapan tiang. Sementara mimbar bertabur ukiran daun, sulur, dan bunga.

(Baca juga: Secuil Kisah dari Negeri Istana)

Dahulu, Masjid Syahabuddin tersohor sebagai pusat dakwah agama Islam yang mendapat dukungan penuh dari Kesultanan Siak Sri Indrapura. Sebagian besar kegiatan dakwah bahkan didanai oleh kerajaan dan ta’mir atau pengelola masjid diangkat langsung oleh sultan. Oleh karena itu, tidak heran bila agama Islam bertumbuh pesat di Siak. Selain pengaruh Islam, masjid ini juga menjadi saksi sejarah perlawanan  Kesultanan Siak Sri Indrapura terhadap pengaruh Belanda.

Dari masjid tertua di Siak, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan dengan berwisata ziarah ke kompleks makam Sultan Syarif Kasim II. Mausoleum atau monumen makam tersebut berdiri persis di kanan masjid.

Di tengah-tengah mausoleum yang dibangun pada tahun 2002 itu terdapat makam yang ditudungi kain sepanjang 1,5 meter berwarna kuning menyala. Itulah makam Sultan Syarif Kasim II. Makam itu terdiri dari empat undakan dengan panjang 305 sentimeter, lebar 153 sentimeter, dan tinggi 110 sentimeter.

Di sekitar makam sultan, terdapat lima makam lainnya: Permaisuri Tengku Agung, Pangeran Tengku Embong (Ayah Permaisuri), Tengku Temenggung (Paman Sultan Syarif Kasim II), Syarifah Fadlon (Istri Keempat Sultan Syarif Kasim II), dan Tengku Mansoer bin Chalid (Sepupu  Sultan Syarif Kasim II).

Kampung Merah di Utara Siak

Perjalanan menyusuri Siak diakhiri dengan mengunjungi kawasan Pecinan yang berada di Jalan Tubagus Ismail. Tidak ada catatan sejarah sahih terkait kedatangan masyarakat keturunan China ke Siak. Namun, berdasarkan cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi, kehadiran mereka di sana merupakan undangan Sultan Syarif Kasim II. Tujuannya, untuk menularkan semangat berwirausaha kepada masyarakat lokal.

Warga keturunan China tersebut kemudian bermukim di utara Siak Sri Indrapura, sekitar 500 meter dari Istana Siak. Pada tahun 1898, sekitar lima tahun setelah Istana Siak dirampungkan, masyarakat Tionghoa di Siak membangun Kelenteng Hock Siu Kong. Menariknya, sosok yang menukangi kelenteng ini adalah arsitek asal Jerman yang juga mengerjakan desain Istana Siak.

Sebelum memasuki kelenteng, pengunjung disuguhi mural yang bertutur tentang Delapan Dewa yang dalam mitologi Taoisme disebut Ba Xian. Sementara pada bagian bawahnya terdapat ukiran 12 shio. Atap kelenteng ini dihiasi dua naga dan dua merak di kedua sisinya. Sementara pada bagian tengah terdapat ukiran teratai, singa, kuda, dan naga.

Pada pintu masuk utama kelenteng, terdapat lukisan delapan dewa dan ukiran membentuk  bunga. Menurut Kho, salah satu penjaga Kelenteng Hock Siu Kong, bangunan kelenteng ini belum mengalami perubahan. “Semuanya masih asli. Kalaupun ada penambahan, hanya pemberian sayap di kiri dan kanan bangunan utama,” katanya.

Sekitar 50 meter dari Kelenteng Hock Siu Kong, terdapat deretan rumah toko (ruko) bermaterial kayu dalam balutan warna merah. Di ruko-ruko itu, masyarakat keturunan China bertempat tinggal sekaligus berdagang.

Sebagian dari mereka membuka toko kelontong. Lainnya, berjualan pakaian jadi dan membuka kedai kopi. Cobalah menikmati secangkir Kopi O di kawasan Pecinan. Menurut Ali, Pemilik Kedai Kopi Ali, untuk menyajikan Kopi O bercita rasa premium, dia mendatangkan biji kopi dari Kabupaten Kerinci, Jambi. Biji kopi itu kemudian dipanggang bersama gula dan mentega sehingga menghasilkan rasa dan  aroma yang cukup pekat.

 

Penulis: Siska Maria