Festival Pulau Penyengat 2018 Tampilkan Budaya Melayu Sesungguhnya

Wednesday, 17 January 18   76 Views   0 Comments   Harry Purnama
Festival Pulau Penyengat 2018

Pemerintah Kota Tanjung Pinang akan menyelenggarakan Festival Pulau Penyengat 2018 pada 14-18 Februari 2018. Ada lebih dari 20 kegiatan akan dihadirkan pada festival ini, seperti lomba dayung sampan, lomba pukul bantal di laut, lomba nambat itik di laut, lomba becak motor hias, pangkak gasing, syahril gurindam 12, membaca gurindam 12, pertunjukan wayang cicak, kegiatan klinik sastra, Fashion Malay Penyengat Syawal Serantau, Hunting Photography Penyengat Halal Competition, dan Short Film Netizen Penyengat Halal Competition.

“Tidak hanya itu, ada pula acara seru lainnya, seperti Tour Pattern Penyengat Halal Competition dan Khazanah Kompang Melayu. Agenda ini sekaligus menjadi sarana pertunjukan dan hiburan bagi wisatawan dan masyarakat Tanjung Pinang,” ujar Reni Yusneli, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kota Tanjung Pinang.

Reni optimistis festival ini dapat menjaring wisman di wilayah perbatasan. Selain jaraknya yang relatif dekat dengan Malaysia dan Singapura, kedekatan kultur dan budaya pun menjadi pertimbangannya. Apalagi, budaya Melayu di wilayah ini masih sangat kental dan tetap dilestarikan.

“Dengan festival yang dilandasi budaya Melayu, dipastikan tingkat kunjungan wisatawan dari negara tetangga semakin bertambah. Itu juga akan memajukan daerah serta meningkatkan tingkat perekonomian masyarakat,” ujar Reni.

Dari sekian banyaknya kegiatan, ada tiga acara utama pada Festival Pulau Penyengat 2018, yakni Kompetisi Malay Fashion Carnaval, Parade Melayu dan Muslim Fashion, serta Bazar Melayu Fashion. “Kompetisi Malay Fashion Carnaval ini akan mengangkat konten lokal Melayu dalam karya kreatif pakaian karnaval. Ini juga sebagai daya tarik untuk kunjungan para turis. Diharapkan akan menjadi aktivitas pariwisata Pulau Penyengat secara berkelanjutan,” ujar Reni.

Pulau Penyengat menjadi salah satu kebanggaan Tanjung Pinang karena kaya situs bersejarah peninggalan Kerajaan Riau. Faktanya, Pulau Penyengat yang dikenal dengan sebutan Pulau Penyengat Indra Sakti atau Pulau Penyengat Mas Kawin pernah menjadi pusat Kerajaan Riau-Lingga.

Berdasarkan sejarah, pulau ini merupakan tempat pertahanan Raja Kecil melawan serangan Tengku Sulaiman dari Hulu Riau pada tahun 1719. Kemudian, sejumlah benteng pertahanan dibangun pada 1782-1784 untuk menghadapi perang melawan Belanda.

“Banyak sekali sejarah Melayu terjadi di pulau ini. Bahkan, cikal bakal lahirnya bahasa Indonesia juga di sini,” ungkap Reni.

Masjid Sultan Riau ada di sini yang berdiri sejak 1832. Tak jauh dari masjid ini, ada kompleks makam Yang Dipertuan Muda Riau VII Raja Abdurrahman.

“Ada juga makam Raja Ali Haji dan Gedung Mesiu yang sangat kental dengan sejarah. Ada juga Istana Kantor yang dulunya merupakan istana tempat tinggal Raja Ali (1844-1857),” ujar Reni.

Dari kota Tanjung Pinang, Pulau Penyengat bisa dijangkau menggunakan kapal hanya 10 hingga 15 menit. “Kalau ingin berkeliling Pulau Penyengat, wisatawan bisa menggunakan motor becak dengan tarif Rp30.000 per jam,” ujar Reni.

Menteri Pariwisata Arief Yahya berharap Festival Pulau Penyengat 2018 bisa mengangkat pariwisata Kepulauan Riau, khususnya potensi destinasi wisata alam dan budaya setempat. Selain itu, juga memperkenalkan Pulau Penyengat sebagai pusat sejarah dan budaya Melayu.

“Letaknya yang strategis, berbatasan dengan Malaysia dan Singapura, menjadi keuntungan tersendiri. Semua harus digarap secara serius. Kalau Tanjung Pinang serius, pariwisata pasti cepat tumbuh,” ujar Arief Yahya.