Wise Tourism Forum Ke-5 Bahas Potensi Pasar Domestik Hingga Wisata Berkelanjutan

Friday, 17 March 23 Bonita Ningsih

Wise Steps Consulting kembali menyelenggarakan Wise Tourism Forum untuk kelima kalinya. Acara yang dikemas dalam bentuk webinar ini digelar pada tanggal 16 Maret 2023 melalui Zoom Meeting mulai pukul 14.00 hingga 17.00 WIB.

5th Wise Tourism Forum mengangkat tema “Travel Market & Trends Update 2023” dan membahas mengenai tren terkini pasar pariwisata di Indonesia. Tema ini diambil untuk menyambut masa pemulihan pariwisata Indonesia setelah pandemi COVID-19.

Sejumlah pembicara dari industri pariwisata dihadirkan dalam webinar ini dengan maksud untuk merumuskan berbagai strategi terkait dinamika pasar terkini. Pembahasan tersebut dianggap penting lantaran pada tahun 2023 diproyeksikan akan menjadi masa pemulihan bagi pariwisata secara global. Bahkan, skenario dari UNWTO menyebutkan bahwa pada tahun 2023, kedatangan wisatawan mancanegara secara global dapat mencapai 80-95 persen dari angka kedatangan sebelum pandemi.

“Forum ini menjadi kesempatan untuk berbagai pengetahuan dan pengalaman dalam mengembangkan pariwisata,” ujar Mochamad Nalendra, CEO Wise Steps Consulting.

Melalui forum ini, Wise Steps Consulting, juga memberikan kesempatan bagi banyak pihak untuk berdiskusi terkait pasar terkini dalam industri pariwisata. Pembahasan terkait masalah ini dibawakan oleh tiga narasumber dari bidang pariwisata yang diwakilkan oleh Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO), Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), dan juga Bali Hotels Association (BHA).

BACA JUGA:   Sandiaga Uno Tanggapi Kebakaran Bukit Teletubbies Bromo: Kami Geram!

Awan Aswinabawa, Dewan Pengawas DPP ASTINDO, membahas terkait perkembangan pariwisata domestik dari beberapa tahun belakangan ini. Menurut Awan, pariwisata domestik di Indonesia selalu menunjukan trend positif setiap tahunnya sehingga menjadi tulang punggung pariwisata nasional.

“Jika melihat dari data BPS, sejak tahun 2015 hingga 2022 trend wisata domestik cenderung naik, kecuali di tahun 2020 karena adanya pandemi. Tetapi, kalau dirata-rata selama tujuh tahun belakangan ini, wisata domestik mengalami kenaikan kurang lebih 23 persen,” jelas Awan.

Pembicara kedua diisi oleh Febriansyah selaku Komite ASEAN DPP ASITA yang membahas terkait Pasar Turis Inbound ASEAN dan Tren di Indonesia. Menurut Febriansyah, pasar ASEAN ke Indonesia terbilang cukup bagus karena berhasil mendatangkan 1.899.391 orang pada tahun 2022.

“Negara ASEAN pertama yang paling banyak datang ke Indonesia adalah Malaysia kemudian disusul Singapura, Vietnam, dan Thailand. Urutan tersebut dari tahun 2019 hingga 2022 tidak banyak mengalami perubahan,” kata Febri.

BACA JUGA:   Bali Beyond & Travel Fair Kian Membesar

Pada sesi pertama, webinar “Travel Market & Trends Update 2023” ditutup dengan pembahasan terkait market Austarlia di Indonesia oleh Fransiska Handoko, Chairwoman of Bali Hotels Association. Fransiska mengatakan bahwa Australia menjadi pasar yang seksi bagi Indonesia, khususnya di Bali.

“Data yang diperoleh dari Asia Destination saat Oktober kemarin menyebutkan bahwa tujuan destinasi nomor satu dari Australia adalah ke Indonesia. Tentunya yang paling besar datang ke Bali. Indonesia berhasil mengalahkan Singapura, Thailand, Vietnam, dan Malaysia,” ucap Fransiska.

Fransiska mengatakan 90 hingga 95 persen wisatawan asal Australia memilih Bali sebagai destinasi utama saat berkunjung ke Indonesia. Hal ini terjadi karena Bali memiliki letak geografis yang dekat dengan Australia dan tersedianya penerbangan langsung dari kedua negara tersebut.

“Bahkan, masyarakat asal Australia sudah menganggap Bali sebagai rumah sendiri. Berpuluh-puluh tahun pariwisata di Bali selalu didukung oleh Australia,” dia menambahkan.

Selanjutnya, pada pembahasan sesi kedua, Wise Tourism Forum membahas pariwisata berkelanjutan dan juga regeneratif di Indonesia. Sesi ini diisi oleh tiga panelis dari ViaVia Travel, Sebumi, serta Wise Steps Travel. Masing-masing panelis membahas bagaimana caranya menggeser perilaku masyarakat ke arah wisata yang berkelanjutan.

BACA JUGA:   Dari Mahasiswa, Untuk Orangtua

“Kami terus berusaha memberikan konsep yang terbaik untuk mengawal pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Bagaimana cara memperkuat produk dan layanan yang lebih inovatif khususnya dalam menyambut market pariwisata berkelanjutan dan regeneratif,” kata Nalendra yang juga berperan sebagai moderator sesi kedua.

Nelendra mengatakan sejumlah langkah telah ditempuh pelaku wisata berkelanjutan, salah satunya dengan mengeluarkan Kampanye “Kita Mulai Sekarang” bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif beserta pentahelix. Kampanye ini memiliki target yaitu menurunkan emisi karbon di sektor pariwisata hingga 50 persen pada tahun 2030. Dengan target utama nol emisi di tahun 2045.

“Semua aliansi pariwisata regenaratif, NGO, hingga pentahelix bergabung untuk menjadikan pariwisata berkelanjutan. Bagaimana kolaborasi ini sangat penting dilakukan untuk menghadapi tantangan yang ada ke depannya,” ungkapnya lagi.