Tjokorda Oka Sukawati, Wakil Gubernur Bali, menambahkan, saat ini ada beberapa wisatawan dari Jerman yang memercayakan Bali sebagai tempat karantina mandiri selama pandemi COVID-19. Hal ini tentu menjadi nilai tambah bagi pariwisata Bali karena dapat memberikan tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi wisatawan mancanegara di tengah pandemi COVID-19.
“Ada satu keluarga dari Jerman secara khusus datang ke Bali untuk karantina diri dan menyewa vila di Ubud. Mereka masak sendiri dan melakukan berbagai aktivitas di sana. Jadi, memang ada beberapa tipe wisatawan yang masih bertahan di Bali saat COVID-19 ini,” kata Cok Ace, begitu sapaan akrabnya.
Selain menambah kepercayaan wisatawan mancanegara terhadap Bali pasca-COVID-19, hal tersebut tentu mendatangkan bisnis bagi pelaku usaha pariwisata di Bali. Meskipun tidak terlalu banyak jumlah transaksinya, setidaknya cara ini dapat membantu pelaku usaha pariwisata untuk tetap hidup di tengah pandemi COVID-19.
“Tidak semua orang memiliki uang lebih untuk mempertahankan usahanya hingga tiga bulan ke depan. Makanya, meskipun ini hanya transaksi kecil-kecilan, setidaknya ini menjadi poin yang bisa kami lakukan untuk membantu para pelaku usaha di pariwisata,” ucap Cok Ace lagi.
Dari contoh kasus tersebut, Hermawan meyakini bahwa bisnis pariwisata di Bali tidak akan pernah mati meskipun diterpa banyak masalah. Sebut saja saat terjadi kasus peledakan bom di Bali, bencana gunung meletus, wabah penyakit SARS hingga MERS, tidak membuat pariwisata di Bali meredup hingga saat ini.
“Bali ini tidak ada matinya ya, mau kena bom berkali-kali, SARS, MERS, dan lainnya, tetap saja ada bisnis setelahnya. Bahkan, saat terjadi COVID-19 ini, saya pikir bisnis di Bali itu nol, ternyata masih ada bisnis di dalamnya,” ungkap Hermawan.





