Industri MICE Menunggu Uluran Tangan Pemerintah

Tuesday, 31 March 20 Herry Drajat
Indonesia International Furniture Expo IFEX
Pameran IFEX menjadi salah satu acara milik Dyandra Promosindo yang dibatalkan penyelengaraannya.

MICE merupakan salah satu industri yang penting karena memberikan dampak besar pada bidang perekonomian. Menurut data dari Oxford Economics, belanja langsung yang dilakukan oleh industri MICE adalah sebesar US$6,3 miliar, sementara sumbangan pada PDB langsung adalah sebesar US$3 miliar.

Industri MICE juga turut berkontribusi menciptakan lapangan kerja. Jumlah tenaga kerja yang terserap pada sektor ini adalah sebanyak 104 orang, dengan total peserta sebanyak 21,4 juta dan rerata pengeluaran sebesar US$296.

Adanya wabah COVID-19 yang melanda dunia pada saat ini sangat memukul industri MICE dan pariwisata. Tercatat hingga 26 Maret 2020 sebanyak 198 negara sudah terdampak penyebaran virus corona, termasuk Indonesia. 

Kejadian ini telah memaksa pemerintah di negara terdampak mengeluarkan kebijakan untuk melindungi warganya, antara lain berupa pembatasan perjalanan, melarang acara yang mengumpulkan orang banyak, hingga melakukan lock down sehingga banyak pelaku industri MICE menunda event yang akan diselenggarakan, bahkan ada yang membatalkan.

Salah satu PEO (Professional Event Organizer) yang terdampak adalah Dyandra Promosindo. Hendra Noor Saleh, Presiden Direktur Dyandra Promosindo, mengatakan, pada tahun 2020 Dyandra seharusnya menggelar 22 event besar. Namun, dengan adanya wabah corona terpaksa membatalkan sebagian acaranya.

Penundaan dimulai pada awal Maret 2020, yaitu pameran IFEX (Indonesia Furniture Expo) yang harusnya diselenggarakan pada 12-15 Maret 2020. “Kemudian pameran IIMS. Ini pertama kali kami menundanya. Selanjutnya, ada travel fair dan pameran wedding, serta ada beberapa event yang kami evaluasi karena melibatkan banyak orang asing, seperti IPA (Indonesian Petroleum Association) dan Jagabumi. Belum keputusan final, tetapi 25 persen di-postpone,” ujar Hendra Noor Saleh.  

Hendra menambahkan, pada kondisi seperti ini perhitungan bisnis menjadi nomor dua. “Kalau kami memaksakan mengadakan event, pasti bisa terselenggara, apalagi kami punya legal standing dengan para calon tenant untuk tetap melaksanakan. Namun, kalau kami memaksakan event berjalan, pertama risikonya sepi, dan yang kedua adalah risiko pada keselamatan dan keamanan pengunjung,” jelasnya.

Halaman : 12