“Hotel ini ‘kan dekat dari rumah sakit Hasan Sadikin dan Rotinsulu yang sebagai rujukan pasien covid-19. Kalau begitu kami jadi bisa siaga dan memantau kalau terjadi apa-apa di sana. Jadi, kita bisa gerak cepat melakukan tindakan,” ujarnya lagi.
Kendati belum resmi dibuka sebagai rumah sakit rujukan pasien covid-19, Henry sudah menyiapkan segala sesuatunya secara matang, mulai dari fasilitas hingga kesigapan seluruh karyawannya jika sewaktu-waktu diminta untuk pindah ke unit hotel Kagum Group lainnya.
“Kalau pemerintah provinsi sudah oke untuk memulainya, kami akan segera mengosongkan hotel. Semua karyawan di sana akan kami ungsikan sementara waktu ke hotel lainnya karena Kagum Group memiliki banyak hotel di dalamnya,” katanya.
Henry menjelaskan, seluruh peralatan medis dan alat kesehatan dibawa langsung oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Pihaknya hanya menyediakan tempat dan fasilitas lainnya yang memang tersedia di dalam hotel.
“Semua masih dalam tahap diskusi dengan dinas kesehatan. Apa saja yang dapat kita lakukan untuk menolong masyarakat terhadap virus covid-19 ini. Kita tidak boleh gegabah dalam ambil keputusan,” ucapnya lagi.
Meskipun sudah menyediakan 99 kamar untuk ruang rawat inap, Henry secara terbuka akan membantu hal lainnya jika memang diperlukan, salah satunya ialah dengan menyediakan tempat lainnya seperti ballroom untuk digunakan sebagai tempat penanganan covid-19.
“Kalau memang nanti dibutuhkan, silakan saja gunakan. Pokoknya, semua tempat yang ada di hotel ini bisa dipakai. Apa pun akan saya kerjakan, tentunya dengan mengedepankan unsur kesehatan juga di dalamnya,” ungkapnya.






