Cara Melindungi Privasi di Media Sosial

Thursday, 14 October 21 Venue

Berbekal nama lengkap saja kini data pribadi orang lain bisa ditemukan di internet. Menurut Rulli Suprayugo, Radio Broadcaster di RRI, privasi adalah hal yang kini sulit untuk dijaga

“Ini karena semua informasi pribadi termasuk email, nomor telepon, dan data lainnya dengan mudah kita bagikan melalui media sosial,” kata dia dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Selasa (12/10/2021).

Menurut dia, tidak mengherankan jika terjadi banyak cybercrime di sepuluh tahun terakhir ini. Termasuk penculikan, jual beli data pribadi, pembobolan rekening, dan lain-lain.

Untuk terhindar menjadi salah satu korban, Rulli mengatakan, terdapat cara-cara melindungi privasi di media sosial, di antaranya:

  • Go private

Mengaktifkan mode private di media sosial adalah salah satu cara untuk melindungi privasi. Ini akan membuat kita yakin orang-orang yang melihat unggahan adalah orang yang dikenal di dunia nyata. Memproteksi akun media sosial bisa mengurangi interaksi dengan akun yang tidak dikenal. Jadi lebih bisa berkomunikasi dengan orang-orang terdekat.

  • Menyeleksi permintaan pertemanan
BACA JUGA:   Ragam Manfaat Internet untuk Anak

Penting untuk tidak langsung menerima semua permintaan pertemanan di media sosial seperti Facebook. Kita tidak tahu niat masing-masing akun yang mengikuti kita. Mungkin mereka hanya iseng atau bisa jadi mereka punya niat lainnya. Untuk mengantisipasi, lebih baik menerima akun yang benar-benar dikenal. Media sosial lain seperti Twitter dan Instagram juga memungkinkan pengguna untuk menyeleksi followers jika akun mereka diatur menjadi private.

  • Jangan pernah menghubungkan akun media sosial satu dengan lainnya

Mayoritas milenial memiliki lebih dari satu akun media sosial. Sebaiknya jangan menghubungkannya satu sama lain. Ini akan memudahkan orang lain mendapatkan data pribadi dengan lengkap. “Kita tidak mau kan informasi dari akun Facebook-mu tampil di LinkedIn?” kata Rulli.

  • Hindari pilihan sign up atau sign in dengan media sosial

Banyak situs dan aplikasi yang menawarkan kemudahan pada pengguna barunya untuk mengisi data pribadi. Mereka hanya perlu menghubungkannya dengan Facebook, Google Account, atau media sosial lainnya.

  • Jangan membagikan lokasi di media sosial
BACA JUGA:   Tips Dasar Membangun Toko Digital

Walaupun terlihat sepele, membagikan lokasi di media sosial adalah hal yang sebaiknya dihindari. Apalagi jika membagikannya secara real time, seperti di Instagram Story atau Snapchat. Informasi tersebut juga akan menunjukkan kita sedang tidak berada di tempat tinggal kita. Ini akan memudahkan terjadinya kriminalitas. Untuk menghindarinya sebaiknya jangan aktifkan GPS ketika mengakses media sosial.

  • Jangan klik link yang tidak jelas asalnya dari mana

Berhati-hati jika ingin meng-klik link yang ada di timeline. Sebab terkadang link bisa berisi konten pornografi, situs yang berbahaya, atau situs phishing yang akan mencuri password dan informasi rahasia lainnya.

  • Sebaiknya gunakan password yang berbeda-beda di setiap akun

Banyak orang menyamakan password untuk semua akun media sosial yang dimiliki. Alasannya agar mudah diingat. Memang benar menggunakan password yang sama memberikan kemudahan.

  • Jangan membagikan informasi yang akan disesali

Jejak digital seseorang di internet akan direkam dan tidak bisa dihilangkan secara permanen. Apa yang diunggah akan berada di internet selamanya. Selain berisiko untuk privasi, membagikan hal yang kita sesali juga akan berdampak bagi reputasi. Jadi pikirkan dua kali sebelum kita mengunggah sesuatu.

BACA JUGA:   Alternatif Bisnis Digital Yang Menjanjikan

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).