Hoaks Mewabah, Begini Hasil Surveinya

Sunday, 12 September 21 Venue

Media sosial telah dimanfaatkan bukan cuma untuk bertemu dengan kawan lama, tetapi juga mencari dan berbagi informasi. Sayang, menurut Misdiyanto, Dosen Fakultas Teknik Komputer UPM Probolinggo, banyak pihak menyalahgunakan media sosial untuk menyebar berita bohong dan menjadikannya sebagai saluran favorit menyebar hoaks.

“Hoaks sengaja dibuat untuk memengaruhi opini publik dan kian marak lantaran faktor stimulasi seperti Sosial Politik dan SARA. Hoaks ini juga muncul karena biasanya masyarakat menyukai sesuatu yang heboh,” ujarnya dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kota Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (10/9/2021).

Menurut riset yang dilakukan Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) proses survei dilakukan secara online dan melibatkan 1,116 responden. Sebanyak 91,8% responden mengatakan berita mengenai Sosial-Politik, baik terkait Pemilihan Kepala Daerah atau pemerintah, adalah jenis hoaks yang paling sering ditemui, dengan persentase di media sosial sebanyak 92,40%.

BACA JUGA:   Kala Masyarakat Digital Membentuk Budaya Digital

Selain itu, 62,8% responden mengaku sering menerima hoaks dari aplikasi pesan singkat seperti Line, WhatsApp atau Telegram. Saluran penyebaran hoaks lainnya adalah situs web 34,9%, televisi 8,7%, media cetak 5%, email 3,1% dan radio 1,2%. Sebanyak 96% responden juga berpendapat hoaks dapat menghambat pembangunan.

Dalam survei yang sama juga diungkapkan 90,3% responden menjawab hoaks adalah berita bohong yang disengaja, 61,6% mengatakan hoaks adalah berita yang menghasut, 59% berpendapat hoaks adalah berita tidak akurat, dan 14% menganggap hoaks sebagai berita ramalan atau fiksi ilmiah.

Selain itu, 12% mengatakan hoaks adalah berita yang menyudutkan pemerintah, 3% menjawab “berita yang tidak saya sukai”, dan hanya 0,6% tidak tahu mengenai hoaks. Ketidakjelasan sumber berita membuat 83,2% responden langsung memeriksa kebenaran berita itu, serta 15,9% langsung menghapus dan mendiamkannya. Hanya 1% responden menyatakan langsung meneruskan berita tersebut.

BACA JUGA:   Jangan Anggap Sepele Berita Hoaks

“Responden sudah cukup kritis karena mereka telah terbiasa memeriksa kebenaran berita. Ini artinya sudah bagus. Tinggal bagaimana mencegah kelompok silent majority berpindah menjadi haters,” tuturnya.

Survei tentang wabah hoaks nasional ini melibatkan responden dengan rentang usia 25 sampai 40 tahun sebanyak 40%, di atas 40 tahun 25,7%, 20 sampai 24 tahun 18,4%, 16 sampai 19 tahun 7,7%, dan di bawah 15 tahun 0,4%. Survei berlangsung selama 48 jam.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Enam Langkah Mudah Meninggalkan Jejak Digital Positif

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).