Perkembangan era digital, tak semata memberi dampak positif pada kemudahan mengakses informasi. Tetapi juga menjadi ladang subur bagi penyebaran berita hoaks. Karena berita apa pun yang hadir di kanal digital memiliki karakteristik mudah dibagikan. Baik melalui copy paste link, capture, atau fitur share yang biasanya ada di situs maupun platform media sosial.
“Jangan menganggap sepele berita hoaks. Karena dampak yang ditimbulkan bisa sangat merugikan,” kata
Moh. Rizki Firdaus, Direktur Utama CV. Kreasi Anak Nusantara, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (06/10/2021).
Berita hoaks, kata dia, dibuat bukan tanpa maksud. Ada tujuan tertentu yang melatarbelakanginya. Menurutnya, terdapat lima motivasi seseorang menciptakan berita hoaks. “Ideologi, uang, politik, kebencian, dan iseng,” kata Rizki.
Soal dampak yang ditimbulkan dari peredaran berita hoaks itu, lanjut dia, tergantung pada jenis tema berita itu sendiri. Di Indonesia, menurut survei yang diadakan oleh Mastel, jenis hoaks bermuatan sosial politik menempati urutan tertinggi dengan persentase 91.8%. Disusul hoaks dengan isu SARA 88.6%, hoaks kesehatan 41.2%, hoaks makanan dan minuman 32.6%, kemudian hoaks penipuan keuangan 24.5%, dan hoaks-hoaks lain seputar iptek, berita duka, candaan, bencana alam, dan lalu lintas.
“Jangan sampai kita turut menyumbang peredaran berita hoaks. Tentang apa pun itu. Tahan diri untuk tidak mudah membagikan berita sebelum mengecek kebenarannya. Sementara orang lain tanpa sadar menerima kebohongan, pelaku hoaks mendapat keuntungan,” tuturnya.
Menurut Rizki, ada baiknya, sebelum membagikan suatu berita, apakah di media sosial, platform chatting, atau di mana pun itu, selalu cek kebenarannya. “Terutama yang terkait isu-isu sensitif, seperti politik, SARA, dan kesehatan,” kata dia.
Rizki mengatakan, terdapat tips untuk mengenali suatu berita apakah benar atau hoaks, yaitu:
- Perhatikan judul
Jika Anda curiga atau belum yakin, sempatkan untuk crosscheck dengan media lain. Mengenai judul, biasanya berita hoaks diberi judul bombastis padahal kontennya memuat kebohongan.
- Perhatikan sumber berita
Apakah situs yang menyampaikan berita itu kredibel dan terverifikasi? Atau situs abal-abal yang tidak jelas? Selalu pertanyakan hal ini setiap kali mengakses suatu informasi. Biasanya situs abal-abal memiliki karakteristik nama yang mengundang kecurigaan.
- Waspada informasi “copas dari grup sebelah”
Jika dalam informasi menyebut suatu kejadian, ajukan pertanyaan di mana kejadiannya? Siapa yang terlibat? Pastikan nama subyek dan lokasi jelas. Jika memungkinkan tanyakan siapa yang pertama kali menyebarkannya agar dapat mengecek faktanya. Jika aspek-aspek ini tidak dapat terjawab jelas, sebaiknya tahan jempol untuk membagikan daripada terlibat sebagai penyebar hoaks.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 -untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).





