Kecanduan Digital Pada Anak Menghantui orangtua

Friday, 12 November 21 Venue

Kecanduan digital menghantui setiap orangtua pada anak mereka, baik yang masih di bawah umur atau beranjak remaja. Namun, menurut Ida I Dewa Ayu Yayati Wilyadewi, Ketua Inkubator Bisnis Unhi Denpasar, hal itu bisa dicegah dengan kemauan kuat dan dukungan dari lingkungan.

“Mulai dari memberi teladan yang baik, membatasi penggunaan, mendorong kegiatan alternatif, sikap disiplin, konsisten, dan tegas hingga perbanyak waktu bersama menjadi sebagian tawaran,” kata dia dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Kamis (11/11/2021).

Hanya, lanjutnya, orangtua perlu mengetahui aktivitas anaknya dan tak boleh lengah mengingatkan ketika mereka mulai intens berinternet. Sebab, menemukan data pribadi di internet saat ini bukan suatu hal yang sulit dan tak sedikit pengguna internet abai dengan privasi. “Mereka tanpa sadar mengumbar data pribadi tanpa memilah mana data yang rawan dan tidak disalahgunakan.”

BACA JUGA:   Tips Meninggalkan Jejak Digital Positif

Ingatkan anak, kata I Dewa Ayu agar tidak memajang data diri terlalu lengkap di media sosial. “Berhati-hati memberikan data-data seperti alamat rumah, nomor telepon pribadi, telepon rumah,” ujarnya.

Saat membuat akun sosial media, kata dia, sebaiknya jangan mengisi data pribadi terlalu lengkap karena data-data tersebut bisa disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. “Jangan ragu kenalkan kepada anak potensi ancaman yang bisa terjadi kepada mereka jika data pribadi itu jatuh ke tangan orang yang salah. Ajak anak bersikap terbuka dan kenalkan cara berinternet yang aman dan positif,” tuturnya.

Sebab, saat ini juga banyak kasus kejahatan yang bermula dari data yang tersebar di media sosial. Khusus untuk orangtua, sebaiknya tidak mem-posting data di mana anaknya bersekolah.

“Anak-anak dan remaja seringkali berpikir bahwa mem-posting informasi pribadi di media sosial tidak berbahaya, padahal media sosial tempat publik, bukan buku diary sehingga apa yang di-posting akan dilihat banyak orang,” tambahnya.

BACA JUGA:   Karakteristik Wajib SDM MICE di Era Pandemi

I Dewa Ayu mengajak orangtua menanamkan pesan pada anaknya berupa think wisely before sharing. “Media sosial kini menjadi platform utama penyebaran informasi. Kalau tidak bijak, media sosial bisa menjadi lahan subur untuk pemupuk perilaku negatif juga seperti hate speech, hoaks hingga cyberbullying,” ujarnya.

Komunikasi orangtua dan anak menurut I Dewa Ayu memegang peranan penting termasuk dalam peranan mengurangi ketergantungan pada gawai. “Ajaklah anak berdiskusi soal dunia digital, game, budaya pop, dan konten-konten yang aman serta positif,” kata dia.

Berikan pengertian soal perundungan dan risiko berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal atau tidak pernah ditemui sebelumnya secara langsung. “Sebab intensitas dengan media sosial bisa memberi dampak negatif karena mudah terpapar konten-konten negatif, jadi target perundungan, obyek pelecehan seksual, hingga kecanduan game online atau offline,” pungkasnya.

BACA JUGA:   Menjadi Masyarakat Digital Berbudaya Indonesia

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).