KOL dan Influencer, Begini Perbedaannya

Sunday, 26 September 21 Venue

Influencer marketing sedang ‘meledak’ dan makin banyak orang yang bermimpi untuk menjadi influencer sukses di berbagai platform media yang tersedia. Menurut Meitha Kurniasari Experienced Secretary to BOD, hal ini muncul karena dalam influencer marketing, brand akan menggunakan jasa para influencer untuk meningkatkan brand awareness dari merek perusahaannya.

“Dari sinilah, timbul beberapa individu yang sibuk berkarya dan berperan dalam sebuah bidang agar kelak dapat berkolaborasi dengan beberapa perusahaan,” kata dia sebagai Key Opinion Leader dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Jumat (24/9/2021).

Meitha mengatakan, sama dengan influencer, Key Opinion Leader (KOL) juga merupakan individu yang telah sukses membangun reputasi baik pada suatu bidang tertentu. Pengalaman mereka menciptakan sebuah pengetahuan yang tak semua orang miliki. Mereka juga mempunyai dokumentasi mengenai pengalaman dan pendidikan mereka.

“Hal ini membuat pendapat seorang KOL menjadi sumber terbaik untuk kredibilitas sebuah berita atau merek,” kata dia.

Menurut Meitha meskipun Key Opinion Leader memiliki peran yang sama, terdapat perbedaan jelas yang membentuk individu menjadi seorang KOL dan influencer. “Dunia pemasaran membutuhkan kedua pihak, namun mereka wajib mengulik kebutuhan brand sebelum memilih jasa siapa yang akan mereka gunakan,” tuturnya.

BACA JUGA:   Ragam Cara Mendidik Anak di Era Digital

Terdapat beberapa perbedaan antara KOL dan influencer, di antaranya:

  • Media yang Digunakan

Key Opinion Leader adalah seseorang yang ahli terhadap industri atau bidang tertentu sehingga pendapatnya didengar. Di dunia nyata, mereka sosok yang dipercaya dan dihormati sehingga komunikasi yang terjadi lebih banyak secara langsung dengan pengikutnya. Meskipun tak jarang, cukup banyak KOL juga menjalin hubungan yang baik melalui media sosial. Sementara influencer menghabiskan lebih banyak waktunya di dunia online, terutama di berbagai media sosial. Mereka menggunakan platform sosial media untuk berkomunikasi dengan para pengikut bahkan mempengaruhi mereka dengan berbagai konten digital yang mereka ciptakan.

  • Kredibilitas

Karena keahlian, kemampuan, pengetahuan, dan profesinya, maka kredibilitas KOL berasal dari kehidupannya secara nyata di suatu bidang atau industri, kualifikasi profesionalnya, serta waktu yang mereka habiskan untuk terlibat di suatu bidang tersebut. Kredibilitas dan kepercayaan yang didapatkan influencer dari para pengikutnya berasal dari identifikasi personal yang ditampilkan influencer itu sendiri di akun-akun media sosial yang mereka miliki serta dari preferensi pribadi.

  • Area Pengaruh dan Letak Geografis
BACA JUGA:   Miliki Etika Cerdas dan Bijak Berinternet

Seorang KOL tidak selalu secara aktif berperan sebagai influencer di media sosial. Ketenaran dan kredibilitas profesionalisme mereka hanya dalam wilayah terbatas, misalnya hanya di suatu daerah, kota, atau negara. Tapi jika KOL yang awalnya hanya memiliki ketenaran di wilayah terbatas, kemudian mulai mendapatkan kesempatan berkolaborasi dengan media televisi, media cetak, bahkan ikut aktif di media sosial, tak menutup kemungkinan KOL juga berprofesi sebagai influencer. Sementara influencer yang sangat aktif mengelola konten-konten di media sosial mereka, memiliki kemungkinan punya banyak penggemar dari berbagai wilayah, atau malah memiliki penggemar dari seluruh bagian dunia.

  • Kemampuan Berkomunikasi

Influencer merupakan ahli komunikasi sejati. Ini memang spesialisasi mereka sesuai dengan pengetahuan dan wawasan mereka terhadap suatu topik. Mereka terampil mengkomunikasikan pesan-pesan khusus dengan cara yang sangat menarik sehingga bisa mempengaruhi pengikut mereka untuk melakukan apa yang mereka sarankan.

Sebenarnya, banyak juga KOL yang juga memiliki keterampilan berkomunikasi di depan khalayak, khususnya bagi mereka yang sering tampil di televisi, radio, seminar-seminar, dan sebagainya. Masalahnya, untuk mengemas keterampilan komunikasi menjadi menarik seperti yang dilakukan oleh influencer, tidak semua KOL bisa melakukannya. Meski begitu, tak masalah KOL seorang komunikator atau bukan karena apa pun pendapat mereka asalkan sesuatu dengan bidang dan profesi, maka akan banyak audiens yang mempercayainya.

BACA JUGA:   Waspadai Terjerat Penipuan Online di Medsos

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).