Meminimalkan Dampak Negatif Internet Pada Anak

Thursday, 19 August 21 Venue

Saat ini, sebagian besar waktu anak-anak dihabiskan di dunia maya. Mulai dari belajar, mengobrol dengan teman dan kakek-nenek, hingga kegiatan ekstrakurikuler.

Menurut Moh Amik Aminuddin, Ketua Umum Bahakti Rokho Jatim Sejahtera (BRJS), bagi anak dan remaja, keterhubungan dengan lingkungan sosialnya sangat penting. “Hal itu untuk mengurangi dampak rutinitas baru, serta membuat mereka tetap bersemangat,” katanya dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Rabu (18/8/2021).

Menurutnya, terdapat cara agar dapat memaksimalkan kegunaan internet sekaligus meminimalkan potensi dampak negatif kepada anak, di antaranya:

  • Berkomunikasi dengan terbuka.

Upayakan komunikasi jujur dan terbuka dengan anak tentang cara dan teman interaksi mereka di dunia maya. Pastikan anak paham interaksi dunia maya pun harus dilakukan dengan baik dan sopan. Perlakuan yang bersifat mendiskriminasi atau tidak pantas tetap tidak boleh ditoleransi. Dorong anak untuk selalu bercerita kepada orang dewasa yang bisa mereka percayai apabila mereka mendapatkan pengalaman negatif.

Selain itu, amati perilaku anak. Waspadalah jika anak tampak murung atau cenderung menyembunyikan kegiatannya di internet, atau jika mengalami perundungan di dunia maya. Buat peraturan bersama anak tentang cara, kapan, dan di mana mereka boleh menggunakan perangkat elektronik.

  • Manfaatkan fitur perlindungan teknologi.
BACA JUGA:   Pentingnya Melakukan Personal Branding

Pastikan perangkat yang digunakan anak menggunakan peranti lunak dan program antivirus terbaru, dengan pengaturan privasi diaktifkan. Matikan/tutupi webcam jika tidak sedang digunakan. Untuk anak-anak, terdapat fitur pengendalian orangtua, termasuk pencarian aman (safe search). Berhati-hatilah terhadap sumber belajar daring yang menawarkan akses gratis.

Jangan berikan foto dan nama lengkap anak, karena platform yang sah tidak meminta data ini. Ingat untuk selalu memeriksa pengaturan privasi untuk meminimalkan perekaman data pribadi. Ajarkan anak cara melindungi informasi pribadinya, terutama dari orang yang tidak dikenal.

  • Temani anak saat mengakses internet.

Ciptakan kegiatan interaksi daring dengan teman, keluarga, atau orangtua dengan anak. Pada masa seperti ini, rasa keterhubungan sosial sangat penting. Inilah peluang bagi orangtua mencontohkan sikap baik dan empati dalam interaksi virtual. Bantu anak mengetahui dan menghindari bentuk-bentuk misinformasi serta konten yang tidak sesuai dengan usianya.

  • Ajarkan anak tetap berperilaku baik di dunia maya.
BACA JUGA:   Mengenalkan Budaya Melalui Digital

Contohkan dan pantau perilaku positif di dunia maya dan saat melakukan panggilan video. Ingatkan anak untuk selalu bersikap baik terhadap teman sekelas, mengenakan pakaian pantas, dan tidak bergabung dalam panggilan video dari kamar tidur.

Untuk orangtua, pelajarilah kebijakan sekolah dan kontak yang bisa dihubungi untuk melaporkan peristiwa cyberbullying atau konten negatif. Bantu anak mengenali iklan di internet. Gunakan kesempatan ini untuk membahas aspek negatif atau keliru dari konten yang tampil, misalnya iklan makanan tidak sehat, stereotip gender, ataupun konten yang tidak seusai usianya.

  • Berikan anak ruang untuk berekreasi.

Orangtua juga bisa menjaga anak tetap aktif dengan mengajarkan dan menemani anak menggunakan sarana digital, seperti video olahraga atau permainan yang membutuhkan gerakan fisik. Ingat, seimbangkanlah rekreasi dunia maya dengan kegiatan fisik, termasuk kegiatan di luar rumah, jika masih memungkinkan.

  • Dorong anak untuk bersuara.

Jika anak merasa sedang di-bully, diganggu, diancam, atau menemukan masalah di dunia maya, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mencari bantuan dari seseorang yang dipercaya seperti Anda sebagai orangtua, wali, anggota keluarga, pendamping, atau orang dewasa lainnya yang terpercaya. Jika bullying atau perilaku tidak menyenangkan terjadi di media sosial, mereka bisa memblokir akun pelaku dan melaporkan perilaku di media sosial itu sendiri.

BACA JUGA:   Mudahnya Belanja Online

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).