Mengenal Algoritma Sosial Media

Saturday, 27 November 21 Venue

Meningkatnya aktivitas dan interaksi sosial di internet membuat risiko terpapar konten negatif semakin tinggi. Menurut Vivi Andriyani, Marcomm Manager Bumbubumbuku, tak sedikit yang mengalami cyberbullying, terpapar hoaks, konten pornografi, hingga pelecehan seksual berbasis online.

“Apalagi ada yang namanya algoritma sosial media, yang membaca preference dan behaviour kita yang melihat sehari-harinya karena memang dipantau oleh algoritma ini,” kata dia saat webinar Literasi Digital wilayah Jabar I Kabupaten Bogor pada Rabu (24/11/2021).

Di satu sisi algoritma baik karena memberikan referensi apa yang dibutuhkan pengguna. Di sisi lainnya algoritma menjadi penyaring informasi dari satu sudut pandang saja, berdasarkan kesukaan dan kebiasaan pengguna serta tidak menyajikan sesuatu yang berlawanan.

BACA JUGA:   Tak Semata Tentang Seks, Ini Ragam Pelecehan Seksual

“Sehingga seorang pengguna akan terpapar informasi yang sejenis, sehingga lama-kelamaan percaya. Pola pikir dan pembuatan keputusan dari satu sudut pandang dari yang muncul di algoritma,” kata dia.

Untuk itu, lanjut dia, perlu ada yang namanya network etiquette, namun merupakan etika tidak tertulis seperti di kehidupan sehari-hari kita tentang cara makan, cara berdiri dan duduk misalkan, atau cara bertutur sapa.

Dalam aturan tak tertulis tersebut menurutnya setiap pengguna internet perlu mengingat keberadaan orang lain di ruang digital. Ketika meninggalkan komentar di unggahan orang lain, bahkan saat berbagi cerita di ruang obrolan seperti grup What’App setiap orang berinteraksi dengan manusia, bukan robot.

BACA JUGA:   Orangtua Perlu Tahu! Begini Ciri Anak Kecanduan Konten Pornografi

“Sehingga hindari penggunaan kata-kata kasar yang bisa melukai. Selain itu jangan umbar informasi yang bersifat pribadi dan hormati privasi orang lain. Berhati-hatilah dengan unggahan di dunia maya, misalnya foto KTP dan foto anak di media sosial. Sebab bila data tersebut jatuh ke tangan yang salah, bisa dimanfaatkan dan akan merugikan pemilik indentitasnya,” tutur Vivi.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Beralih ke Digital, Ini Sembilan Kemampuan yang Dibutuhkan

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).