Indonesia mengalami pertumbuhan luar biasa dalam penetrasi pengguna internet, kini sudah ada 202,6 juta dari 275 juta total penduduk yang melek internet. Populasi pengguna internet yang terus bertambah, kata Ridho Wibowo, Instruktur VCT Jawa Barat, bisa menjadi potensi besar perekonomian digital untuk bangsa yang penduduknya empat terbesar di dunia ini.
“Jika memanfaatkan jaringan internet dan teknologi dengan baik, masyarakat bisa berkomunikasi lebih mudah. Bahkan sejak pandemi, aktivitas seperti bekerja, belajar, belanja, hingga mengakses hiburan pun dilakukan lewat jaringan,” kata Ridho dalam webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, pada Jumat (15/10/2021).
Melihat ketertarikan netizen Indonesia yang aktif di media sosial, YouTube merupakan platform media sosial yang teratas. “Anda pun bisa membuat konten vlog, video tutorial, unboxing, dan podcast. Spesifikasi YouTube yang mengambil kekuatan audio dan visual, membuat content creator harus memerhatikan beberapa strategi.”
Salah satunya yaitu rutin untuk mengunggah konten, memerhatikan durasi video agar pas dan tidak terlalu lama, serta rutin membagikannya di platform media sosial lainnya. “Tentunya untuk menghasilkan uang melalui YouTube pembuat konten harus fokus, monetisasi, minimal memiliki 1.000 subscriber, dan 4.000 jam tayang,” ujar Ridho.
Internet, kata dia, bisa menjadi wadah kreativitas dan inovasi bagi pengguna. Namun haruslah sehat dan aman, karena internet pun memiliki sisi negatif. Internet bisa membuat kecanduan, ada gejala kecanduan secara emosional seperti merasa depresi, gelisah, dan euforia sesaat. Sementara gejala fisik kecanduan meliputi sakit punggung, sindrom terpal carpal, insomnia, sakit leher, hingga gangguan penglihatan.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 -untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).





