Perang Kognitif, Salah Satu Ancaman Dampak Negatif Internet

Friday, 05 November 21 Venue

Adanya pembangunan infrastruktur di Wilayah Indonesia Bagian Timur membuat perlahan-lahan warga di sana mendapatkan akses internet. Menurut Stave R. Mara, Ketua Pemuda LIRA Papua, pengguna internet di Papua terus mengalami peningkatan. Di tahun 2019, di Papua ada 2,9 juta pengguna internet. Peningkatan ini dapat dikatakan sebagai dampak dari covid-19 dan pembangunan infrastruktur.

“Namun, apabila kita sebagai masyarakat tidak turut bertransformasi di era digital ini, tidak menutup kemungkinan akan terjadinya ancaman dampak negatif internet. Teritori cyber kita harus dijaga agar negara kita tetap utuh,” kata Steve dalam Webinar Literasi digital wilayah Kabupaten Mimika, Papua, Rabu (3/11/2021).

Menurut dia, salah satu ancamannya adalah perang kognitif. “Perang ini bisa disebut sebagai perang paling modern, karena dikelola dan dilancarkan dengan pemahaman dan interpretasi. Jadi pola pikir seorang manusia ini diubah dengan pemahaman baru yang berlawanan,” kata Steve.

BACA JUGA:   Kuasai Skill Ini Agar Omset Penjualan Online Meningkat

Perang kognitif ini terjadi ketika seseorang dipaksa untuk diberikan mindset baru dan berasumsi menggunakan pola pikir yang salah. Ujung-ujungnya pemikiran salah ini dianggap benar karena telah diberikan secara terus-menerus.

Hal ini kemudian terjadi pada hoaks dan propaganda. Seperti diketahui, saat ini telah marak berkembang hoaks mengenai pandemi atau covid-19 yang disebarkan melalui media sosial. Menurut Stave, hal ini yang dapat merubah mindset dan dikatakan sebagai perang kognitif.

“Ada banyak sekali berita-berita yang dibarkan di media yang bukan merupakan informasi benar, tetapi karena disebarkan secara massal apalagi yang masih memiliki literasi rendah jadi hanya membaca judulnya dan menarik kesimpulan dari situ,” tuturnya.

BACA JUGA:   Berkarier di Era Digital, Ikuti Tips Membangun Personal Branding

Menurutnya, hal tersebut membawa dampak negatif yang kemudian bisa merusak pola pikir dari anak-anak muda dan masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Akibat dari berita hoaks mengenai covid ini masyarakat tidak mau vaksin, tidak percaya pemerintah, dan kebijakan yang dibuat pemerintah tidak dipatuhi oleh masyarakat. “Dengan itu, kita harus melatih cara berpikir agar lebih kritis lagi dan tidak mudah percaya dengan hoaks, serta saring sebelum sharing,” kata Steve.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Bergerak Menuju Masyarakat Digital, Begini Ciri-cirinya

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).